Senin, 04 Agustus 2014

Stress

Salah satu masalah yang pasti akan dihadapi oleh setiap orang dalam kehidupan  adalah stress. Stress ini harus diatasi, baik oleh individu itu sendiri maupun dengan bantuan orang lain. Stress merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik seseorang.
Stress yang tidak dapat diatasi dengan baik, biasanya berakibat pada ketidakmampuan seseorang berinteraksi secara positif dengan lingkungannya. Berbagai gejala tersebut pada umumnya timbul sebagai perilaku yang tidak normal, gugup, tegang, selalu cemas, gangguan pencernaan, tekanan darah tinggi. Pengaruh gejala-gejala tersebut dapat terdapat pada kondisi mental tertentu, seperti minum-minuman keras, merokok berlebihan, sulit tidur, sikap tidak bersahabat, putus asa, mudah marah, sukar mengendalikan emosi, dan bersifat agresif.
Stress memang tidak terletak di luar diri tetapi di dalam diri kita, walaupun dampak stress sering menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan, namun tidak semua stress buruk. Tingkat stress yang rendah kita butuhkan sebab ini penting untuk kita bertahan hidup dan aktif. Stress dapat membuat individu waspada, menjadi penggerak positif. Sampai pada tingkat stress tertentu, kesehatan dan prestasi dapat menanjak disebut stress sehat/eustress. Di luar kondisi ini justru kesehatan dan prestasi semakin memburuk disebut stress berbahaya/distress.

Sumber Stress
Stressor psikososial adalah setiap keadaan/peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang (anak, remaja atau dewasa) sehingga orang tersebut harus mengadakan adaptasi/menanggulangi stressor yang timbul. Namun tidak semua orang mampu mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya, sehingga timbullah keluhan-keluhan kejiwaan. Jenis stressor psikososial dapat digolongkan sebagai berikut:
a)  Perkawinan: pertengkaran, perpisahan, penceraian, ketidaksetiaan, kematian salah stau pasangan, dll
b)  Problema orang tua: tidak punya anak/kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit, dll
c)   Hubungan inter personal (antar pribadi): konflik dengan kekasih/teman/atasan/bawahan, dll
d)  Pekerjaan: mutasi, pekerjaan tidak cocok, pensiun, PHK, pekerjaan terlalu banyak, dll
e)   Lingkungan hidup: kondisi lingkungan yang buruk bagi kesehatan, penggusuran, lingkungan yang rawan kriminal, dll
f)    Keuangan: terlibat hutang, pendapatan rendah, dll
g)  Hukum: pengadilan, penjara, dll
h)  Perkembangan fisik/mental: pada masa anak-anak, remaja, menopause, dll
i)    Penyakit fisik atau cedera
j)    Faktor keluarga: kondisi keluarga yang tidak baik, dll
k)  Lain-lain: bencana alam, kelaparan, perkosaan, kehamilan di luar nikah, dll

Sumber stress mungkin bisa membuat stress yang berat terhadap seseorang, namun belum tentu bagi orang lain. Berarti sifat stress itu sendiri sangat individual. Model kepribadian yang rentan mengalami stress antara lain:
a.  Orang yang segala sesuatunya ingin sempurna, sangat hati-hati, takut akan penilaian orang lain
b.  Orang yang kecanduan kerja
c.   Orang yang terlalu ambisius
d.  Orang yang kaku dan proses berpikir
e.   Orang yang impulsif

Gejala-gejala psikis, antara lain:
a.   Sukar kosentrasi
b.  Tidak semangat
c.   Lakas marah
d.  Ketakutan tanpa sebab

Gejala-gejala fisiologis, antara lain:
a.   Lambung mual
b.  Dada terasa tertekan
c.   Ketegangan otot di daerah T
d.  Wajah tampak kusut

Tahapan Stress
        Menurut Dr. Robert J. Van Amberg (psikiater), tahapan-tahapan stress, antara lain:
1.  Stress tahap I
Tahapan ini merupakan tingkatan stress yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:
a.   Semangat besar
b.  Penglihatan tahap, tidak sebagaimana mestinya
c.   Energi dan gugup berlebihan, kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya
Tahapan ini biasanya menyenangkan dan orang lain bertambah semangat dan tanpa disadari bahwa sebenarnya cadangan energinya sedang menipis.

2.  Stress tahap II
Dalam tahapan ini dampak stress yang menyenangkan mulai menghilang dan timbul keluhan-keluhan dikarenakan cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan sebagai berikut:
a.   Merasa letih sewaktu bangun pagi
b.  Merasa lelah sesudah makan siang
c.   Merasa lelah menjelang sore
d.  Terkadang gangguan pada sistem pencernaan (gangguan usus, perut kembung) kadang-kadang pula jantung berdebar-debar
e.   Perasaan tegang pada otot-otot punggung dan tengkuk (belakang leher)
f.    Perasaan tidak bisa santai

3.  Stress tahap III
Pada tahapan ini keluhan0keluhan semakin nyata/semakin mengganggu dan sering dikemukakan, antara lain:
a.   Gangguan perut bertambah: maag, diare, dll
b.  Ketegangan otot bertambah
c.   Emosional semakin tegang/tidak tenang
d.  Insomnia/gangguan pola tidur
e.   Koordinasi tubuh terganggu (oyong atau serasa mau pingsan)
Tahapan ini individu/pasien:
a.   Sudah harus istirahat/konsultasi ke dokter
b.  Sering dikatakan dokter tidak ada penyakit, karena tidak ditemukan kelainan fisik
c.   Bila dipaksakan terus akan masuk tahap IV

4.  Stress tahap IV
Pada tahap ini, energi tidak cukup lagi untuk mengatasi keadaannya, keluhan-keluhan dan situasi individu, antara lain:
a.   Sulit bertahan sepanjang hari
b.  Pekerjaan menjadi beban berat dan sulit
c.   Respon tidak sesuai/tidak memadai
d.  Kegiatan rutin tidak mampu lagi
e.   Gangguan tidur dan banyak mimpi tegang menolak ajakan karena tidak bergairah
f.    Daya ingat dan kosentrasi menurun
g.   Timbul rasa takut/cemas tanpa sebab
Bila tahap ini dibiarkan/tidak mendapatkan penanganan, maka akan meningkat ke tahap V.

5.  Stress tahap V
Merupakan tahap menjelang klimaks, dengan keluhan-keluhan yang semakin nyata, antara lain:
a.   Kelelahan fisik dan mental semakin dalam
b.  Tak mampu mengerjakan hal ringan/sederhana
c.   Gangguan perut semakin berat
d.  Cemas/takut bertambah besar sampai bingung/panik

6.  Stress tahap VI
Merupakan tahapan klimaks dengan keluhan-keluhan, antara lain:
a.   Jantung berdebar keras
b.  Sesak/megap-megap, badan gemetaran, keringat bercucuran, dingin
c.   Hilang tenaga sampai pingsan/kolaps
Serangan hebat dengan panik/takut mati sampai harus digotong ke UGD/ICCU tetapi akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh.

Manajemen Stress
Stress dapat dikelola, dengan pengelolaan yang baik stress dapat dihindari atau bahkan dimanfaatkan sehingga menimbulkan dampak yang positif.
A.Who Am I?
Kita harus memahami betul gejala psikofisiologis apa yang timbul ketika stress.
B. Melakukan coping (upaya untuk mengatasi) yang berfokus pada emosi
Coping tersebut dapat mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stressor/sumber stress. Contoh: relaksasi, istirahat, rekreasi.
C. Melakukan coping dengan berfokus pada masalah. Dengan cara bertindak langsung untuk mencari stressor/sumber stress dan mengatasi masalah/mencari informasi yang dipergunakan untuk menetapkan jalan keluar.

Coping tersebut, antara lain:
1.  Mengatur waktu
-       Susun prioritas waktu di jadwal rencana kerja
-       Perhatian dipusatkan pada kegiatan yang sedang dihadapi
-       Kerjakan segalanya satu per satu, bukan beberapa hal sekaligus
-       Bekerjalah dengan kecepatan yang nyaman
-       Tinjau ulang skema kegiatan dan untuk sasaran yang belum tercapai jadwalkan kembali
2.  Mencounter pikiran negatif menjadi pikiran positif
Berpikir positif bukan berpikir apa yang membuat anda sedih, melainkan anda berpikir tentang apa yang akan terjadi.
3.  Pace maker
Target jangka panjang dibagi menjadi beberapa target pendek

Upaya peningkatan kekebalan terhadap stress, antara lain:
1.       Makanan yang berimbang
2.       Tidur/istirahat yang cukup
3.       Olahraga teratur
4.       Hindari rokok
5.       Hindari minuman keras
6.       Berat badan seimbang
7.       Pergaulan yang baik
8.       Mangatur waktu
9.       Kegiatan agama
10.  Rekreasi
11.  Pengeloaan keuangan
12.  Kasih sayang

13.  Relaksasi, meditasi, yoga, doa, dan dzikir

Tidak ada komentar: