Salah satu masalah yang
pasti akan dihadapi oleh setiap orang dalam kehidupan adalah stress.
Stress ini harus diatasi, baik oleh individu itu sendiri maupun dengan bantuan
orang lain. Stress merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap
emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik seseorang.
Stress yang tidak dapat
diatasi dengan baik, biasanya berakibat pada ketidakmampuan seseorang
berinteraksi secara positif dengan lingkungannya. Berbagai gejala tersebut pada
umumnya timbul sebagai perilaku yang tidak normal, gugup, tegang, selalu cemas,
gangguan pencernaan, tekanan darah tinggi. Pengaruh gejala-gejala tersebut
dapat terdapat pada kondisi mental tertentu, seperti minum-minuman keras,
merokok berlebihan, sulit tidur, sikap tidak bersahabat, putus asa, mudah
marah, sukar mengendalikan emosi, dan bersifat agresif.
Stress memang tidak
terletak di luar diri tetapi di dalam diri kita, walaupun dampak stress sering
menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan, namun tidak semua stress buruk.
Tingkat stress yang rendah kita butuhkan sebab ini penting untuk kita bertahan
hidup dan aktif. Stress dapat membuat individu waspada, menjadi penggerak
positif. Sampai pada tingkat stress tertentu, kesehatan dan prestasi dapat
menanjak disebut stress sehat/eustress. Di luar kondisi ini justru kesehatan
dan prestasi semakin memburuk disebut stress berbahaya/distress.
Sumber Stress
Stressor psikososial
adalah setiap keadaan/peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan
seseorang (anak, remaja atau dewasa) sehingga orang tersebut harus mengadakan
adaptasi/menanggulangi stressor yang timbul. Namun tidak semua orang mampu
mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya, sehingga timbullah
keluhan-keluhan kejiwaan. Jenis stressor psikososial dapat digolongkan sebagai
berikut:
a)
Perkawinan: pertengkaran, perpisahan,
penceraian, ketidaksetiaan, kematian salah stau pasangan, dll
b)
Problema orang tua: tidak punya
anak/kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit, dll
c)
Hubungan inter personal (antar pribadi):
konflik dengan kekasih/teman/atasan/bawahan, dll
d)
Pekerjaan: mutasi, pekerjaan tidak cocok,
pensiun, PHK, pekerjaan terlalu banyak, dll
e)
Lingkungan hidup: kondisi lingkungan yang
buruk bagi kesehatan, penggusuran, lingkungan yang rawan kriminal, dll
f)
Keuangan: terlibat hutang, pendapatan
rendah, dll
g)
Hukum: pengadilan, penjara, dll
h)
Perkembangan fisik/mental: pada masa
anak-anak, remaja, menopause, dll
i)
Penyakit fisik atau cedera
j)
Faktor keluarga: kondisi keluarga yang
tidak baik, dll
k)
Lain-lain: bencana alam, kelaparan,
perkosaan, kehamilan di luar nikah, dll
Sumber stress mungkin bisa membuat stress yang berat terhadap seseorang,
namun belum tentu bagi orang lain. Berarti sifat stress itu sendiri sangat
individual. Model kepribadian yang rentan mengalami stress antara lain:
a.
Orang yang segala sesuatunya ingin
sempurna, sangat hati-hati, takut akan penilaian orang lain
b.
Orang yang kecanduan kerja
c.
Orang yang terlalu ambisius
d.
Orang yang kaku dan proses berpikir
e.
Orang yang impulsif
Gejala-gejala psikis, antara lain:
a.
Sukar kosentrasi
b.
Tidak semangat
c.
Lakas marah
d.
Ketakutan tanpa sebab
Gejala-gejala fisiologis, antara lain:
a.
Lambung mual
b.
Dada terasa tertekan
c.
Ketegangan otot di daerah T
d.
Wajah tampak kusut
Tahapan Stress
Menurut Dr. Robert J. Van Amberg
(psikiater), tahapan-tahapan stress, antara lain:
1.
Stress tahap I
Tahapan ini merupakan
tingkatan stress yang paling ringan, dan biasanya disertai dengan
perasaan-perasaan sebagai berikut:
a.
Semangat besar
b.
Penglihatan tahap, tidak sebagaimana
mestinya
c.
Energi dan gugup berlebihan, kemampuan
menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya
Tahapan ini biasanya menyenangkan dan orang lain bertambah semangat dan
tanpa disadari bahwa sebenarnya cadangan energinya sedang menipis.
2.
Stress tahap II
Dalam tahapan ini dampak
stress yang menyenangkan mulai menghilang dan timbul keluhan-keluhan
dikarenakan cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Keluhan-keluhan
yang sering dikemukakan sebagai berikut:
a.
Merasa letih sewaktu bangun pagi
b.
Merasa lelah sesudah makan siang
c.
Merasa lelah menjelang sore
d.
Terkadang gangguan pada sistem pencernaan
(gangguan usus, perut kembung) kadang-kadang pula jantung berdebar-debar
e.
Perasaan tegang pada otot-otot punggung
dan tengkuk (belakang leher)
f.
Perasaan tidak bisa santai
3.
Stress tahap III
Pada tahapan ini
keluhan0keluhan semakin nyata/semakin mengganggu dan sering dikemukakan, antara
lain:
a.
Gangguan perut bertambah: maag, diare, dll
b.
Ketegangan otot bertambah
c.
Emosional semakin tegang/tidak tenang
d.
Insomnia/gangguan pola tidur
e.
Koordinasi tubuh terganggu (oyong atau
serasa mau pingsan)
Tahapan ini individu/pasien:
a.
Sudah harus istirahat/konsultasi ke dokter
b.
Sering dikatakan dokter tidak ada
penyakit, karena tidak ditemukan kelainan fisik
c.
Bila dipaksakan terus akan masuk tahap IV
4.
Stress tahap IV
Pada tahap ini, energi
tidak cukup lagi untuk mengatasi keadaannya, keluhan-keluhan dan situasi
individu, antara lain:
a.
Sulit bertahan sepanjang hari
b.
Pekerjaan menjadi beban berat dan sulit
c.
Respon tidak sesuai/tidak memadai
d.
Kegiatan rutin tidak mampu lagi
e.
Gangguan tidur dan banyak mimpi tegang
menolak ajakan karena tidak bergairah
f.
Daya ingat dan kosentrasi menurun
g.
Timbul rasa takut/cemas tanpa sebab
Bila tahap ini dibiarkan/tidak mendapatkan penanganan, maka akan meningkat
ke tahap V.
5.
Stress tahap V
Merupakan tahap
menjelang klimaks, dengan keluhan-keluhan yang semakin nyata, antara lain:
a.
Kelelahan fisik dan mental semakin dalam
b.
Tak mampu mengerjakan hal ringan/sederhana
c.
Gangguan perut semakin berat
d.
Cemas/takut bertambah besar sampai
bingung/panik
6.
Stress tahap VI
Merupakan tahapan
klimaks dengan keluhan-keluhan, antara lain:
a.
Jantung berdebar keras
b.
Sesak/megap-megap, badan gemetaran,
keringat bercucuran, dingin
c.
Hilang tenaga sampai pingsan/kolaps
Serangan hebat dengan panik/takut mati sampai harus digotong ke UGD/ICCU
tetapi akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh.
Manajemen Stress
Stress dapat dikelola,
dengan pengelolaan yang baik stress dapat dihindari atau bahkan dimanfaatkan
sehingga menimbulkan dampak yang positif.
A.Who Am I?
Kita harus memahami
betul gejala psikofisiologis apa yang timbul ketika stress.
B.
Melakukan coping (upaya untuk mengatasi)
yang berfokus pada emosi
Coping tersebut dapat
mengurangi berbagai reaksi emosional negatif terhadap stressor/sumber stress.
Contoh: relaksasi, istirahat, rekreasi.
C.
Melakukan coping dengan berfokus pada
masalah. Dengan cara bertindak langsung untuk mencari stressor/sumber stress
dan mengatasi masalah/mencari informasi yang dipergunakan untuk menetapkan
jalan keluar.
Coping tersebut, antara lain:
1.
Mengatur waktu
-
Susun prioritas waktu di jadwal rencana
kerja
-
Perhatian dipusatkan pada kegiatan yang
sedang dihadapi
-
Kerjakan segalanya satu per satu, bukan
beberapa hal sekaligus
-
Bekerjalah dengan kecepatan yang nyaman
-
Tinjau ulang skema kegiatan dan untuk
sasaran yang belum tercapai jadwalkan kembali
2.
Mencounter pikiran negatif menjadi pikiran positif
Berpikir positif bukan
berpikir apa yang membuat anda sedih, melainkan anda berpikir tentang apa yang
akan terjadi.
3.
Pace maker
Target jangka panjang dibagi menjadi
beberapa target pendek
Upaya peningkatan kekebalan terhadap stress, antara lain:
1.
Makanan yang berimbang
2.
Tidur/istirahat yang cukup
3.
Olahraga teratur
4.
Hindari rokok
5.
Hindari minuman keras
6.
Berat badan seimbang
7.
Pergaulan yang baik
8.
Mangatur waktu
9.
Kegiatan agama
10.
Rekreasi
11.
Pengeloaan keuangan
12.
Kasih sayang
13.
Relaksasi, meditasi, yoga, doa, dan dzikir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar