Jumat, 12 September 2014

Gimana Rasanya Hidupnya di Negeri Orang (Resensi Buku (Not) Alone in Other Land)




Judul        : (Not) Alone in Other Land
Penulis      : Lia Indra Andriana, Fei, dan Andry Setiawan
Penerbit    : Penerbit Haru
Tebal        : 276 halaman
Harga       : Rp 45.000

Bagi kalian yang sekarang lagi gandrung yang namanya drama, film, lagu, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan negara Korea, Cina, ataupun Jepang, pasti kalian pengen belajar bahasa mereka biar kalian bisa lebih mengenal sama negara-negara yang sudah disebut di atas.

Nah, hal ini pun terjadi sama ketiga penulis buku ini, yaitu Lia Indra Andriana yang merupakan seorang penulis (salah satu bukunya berjudul Seoulmate), Fei, dan Andri Setiawan untuk mempelajari bahasa-bahasa negara tersebut, yakni Korea, Cina, dan Jepang. Walaupun latar belakang mereka belajar bahasa ke negaranya langsung g seperti yang sudah aku sebutkan di atas.

Di dalam buku ini diceritakan pengalaman mereka bertiga mempelajari bahasa, berintekasi dengan masyarakat lokal ataupun teman-teman dari negara lain, hidup sendirian di negeri orang di mana bahasanya kalian masih belum fasih dan kebanyakan masyarakatnya g mahir yang namanya bahasa Inggris. Kebayang dong kalian repot dan serunya pengalaman yang mereka punya.

Bagi kalian yang ingin belajar bahasa ke negara-negara tersebut ataupun liburan atau cuma sekedar pengen tahu aja kehidupan masyarakat di sana, kalian mesti baca ni buku. Di dalam buku ini, kita diajak berkenalan dengan kehidupan sehari-hari masyarakatnya, cara bergaul, gimana cara kita untuk berinteraksi dengan teman-teman dari negara lainnya yang berbeda budaya sama kita serta tips dari mereka gimana cara memulai suatu hubungan pertemanan, dan petualangan serta tantangan yang mereka temukan selama hidup di sana. Oh ya, ada juga tambahan fakta-fakta yang menurut aku sih, aq baru mengetahuinya setelah baca ni buku.

Ni kutipan dari penulisnya:
“Jika ada yang memiliki mesin waktu dan bertanya apakah saya ingin kembali ke masa lalu, saya akan meminta kembali ke masa 100 hari di Korea ini. Bukan untuk mengubahnya melainkan untuk menikmtinya lagi.” (Lia)

“Dan ternyata memang sebuah sapaan simpel ‘halo’ dalam berbagai bahasa merupakan jurus yang sangat ampuh untuk membuka pembicaraan, dan juga jalan pertemanan dengan orang-orang dari berbagai negara.” (Fei)


“Saya mulai merasa kehilangan diri saya sendiri. Saya sempat bertanya-tanya apa pilihan saya ini benar?” (Andry)

Tidak ada komentar: