Baru aja nonton drama korea yang judulnya Its Ok Its
Love di episode 13, nah di drama ini diceritain ternyata tokoh utama
laki-lakinya ternyata mengidap gangguan psikologis yang disebut
Skizofrenia. Jadinya pengen cari tahu lebih banyak tentang gangguan psikologis
ini. Yok check this out ^^
Definisi Skizofrenia
Skizofrenia merupakan suatu gangguan kejiwaan
kompleks di mana seseorang mengalami kesulitan dalam proses berpikir sehingga
menimbulkan halusinasi, delusi, gangguan berpikir dan bicara atau perilaku yang
tidak biasa (dikenal sebagai gejala psikotik). Karena gejala ini, orang
dengan skizofrenia dapat mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang
lain dan mungkin menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar.
Gejala Skizofrenia
1. Gejala
positif
Fungsi
otak dari penderita penyakit skizofrenia akan bekerja lebih aktif atau bisa
dikatakan berlebihan, hal ini menyebabkan otak bekerja dengan tidak normal.
Akibatnya, penderita akan mengalami beberapa hal seperti berikut ini:
·
Berkhayal
Ini merupakan hal yang paling umum dialami oleh para penderita, mereka memiliki keyakinan yang berbeda dengan orang normal. Mereka akan melihat realitas yang berbeda pula, selain itu, penderita juga sering salah menafsirkan persepsi.
Ini merupakan hal yang paling umum dialami oleh para penderita, mereka memiliki keyakinan yang berbeda dengan orang normal. Mereka akan melihat realitas yang berbeda pula, selain itu, penderita juga sering salah menafsirkan persepsi.
·
Halusinasi
Orang yang mengalami penyakit ini sering berhalusinasi, mereka seringkali melihat atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
Orang yang mengalami penyakit ini sering berhalusinasi, mereka seringkali melihat atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
·
Gangguan pikiran
Penderita
skizofrenia akan kesulitan berbicara dan mengatur pikirannya sehingga hal ini
mengganggu kemampuan berkomunikasi.
·
Perilaku tidak teratur
Orang
yang mengalami skizofrenia sering berperilaku aneh, seperti anak kecil yang
melakukan hal-hal konyol.
2. Gejala
negatif
Gejala
ini mengacu pada berkurangnya atau bahkan tidak adanya karakteristik fungsi
otak yang normal, gejala ini mungkin muncul disertai atau tanpa adanya gejala
positif. Gejala-gejala yang ditimbulkan antara lain :
·
Sulit mengekspresikan emosi.
·
Menarik diri dari lingkungan sosial.
·
Kehilangan motivasi.
·
Tidak minat melakukan kegiatan sehari-hari.
·
Mengabaikan kebersihan pribadi.
Gejala-gejala
tersebut seringkali dianggap sebagai kemalasan yang biasa dialami oleh tiap
orang. Namun, hal itu ternyata keliru.
3. Gejala
kognitif
Jenis
gejala ini akan menimbulkan masalah pada proses berpikir, tanda dan gejala yang
mungkin timbul, antara lain :
·
Masalah dalam membuat informasi yang masuk
akal dan dapat dimengerti.
·
Sulit berkonsentrasi
·
Masalah pada memori otak
Selain ketiga gejala di atas, penyakit skizofrenia juga
akan menimbulkan masalah pada suasana hati, para penderitanya akan mengalami
depresi, cemas, dan seringkali mencoba untuk bunuh diri. Gejala-gejala dari
penyakit ini lambat laun dapat melumpuhkan para penderitanya. Sebab, hal ini
sangatlah mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan rutin
sehari-hari.
Namun, apabila penderitanya masih berusia remaja, gejala yang ditimbulkan sulit untuk dideteksi dan kemudian dianggap sebagai penyakit skizofrenia. Sebab, pada usia tersebut mereka pasti akan mengalami hal-hal ini yang ternyata merupakan gejala dari penyakit skizofrenia :
Namun, apabila penderitanya masih berusia remaja, gejala yang ditimbulkan sulit untuk dideteksi dan kemudian dianggap sebagai penyakit skizofrenia. Sebab, pada usia tersebut mereka pasti akan mengalami hal-hal ini yang ternyata merupakan gejala dari penyakit skizofrenia :
1. Menarik
diri dari keluarga dan teman
2. Penurunan
kinerja di sekolah
3. Sulit
tidur
4. Cepat
emosi
Penyebab
Skizofrenia
Faktor genetik dan lingkungan atau
cedera otak sekitar masa kelahiran mungkin berperan. Masing-masing faktor
ini diyakini akan meningkatkan risiko bagi individu tertentu untuk mengalami
gejala psikotik, yang bisa dipicu oleh sejumlah peristiwa kehidupan dan situasi
yang berbeda, seperti efek isolasi sosial dan stres, khususnya di sekitar awal
masa dewasa. Narkoba, termasuk ganja, juga telah dikaitkan dengan pemicu
terjadinya skizofrenia dan gejala psikotik sementara.
Ahli jiwa (Psikiater) sepakat bahwa
gejala skizofrenia merupakan akibat dari masalah dalam mengirim, dan memproses
informasi dalam otak. Masalah
ini terjadi saat komunikasi normal antara sel-sel saraf otak yang terjadi
akibat pelepasan bahan kimia tidak bekerja seperti seharusnya.
Jenis-jenis
Skizofrenia
a.
Paranoid schizophrenia (skizofrenia paranoid)
Orang dengan tipe ini kerap disibukkan dengan
keyakinan yang salah (delusi) bahwa mereka selalu dihukum atau dianiaya oleh
seseorang. Cara berpikir, mengekspresikan emosi, dan cara bicara mereka
cenderung normal.
b. Disorganised
schizophrenia (skizofrenia
tidak teratur)
Orang dengan tipe ini sering bingung dan
memiliki masalah dalam berbicara: entah tidak jelas atau bahkan sering
campur-aduk. Sekilas dari tampak luar, emosi mereka datar atau tampak janggal,
bahkan konyol atau kekanak-kanakan. Seringkali mereka mengalami kesulitan
mengatur segala sesuatu yang dapat mengganggu kemampuan mereka untuk
melakukan kegiatan normal sehari-hari, seperti: menyiapkan makanan atau
mengurus diri sendiri.
c.
Catatonic schizophrenia (skizofrenia katatonik)
Orang yang menderita skizofrenia katatonik
cenderung enggan bergerak dan tidak responsif terhadap dunia di sekitar mereka.
Mereka sering menjadi sangat kaku dan tidak mau bergerak – atau pasien
melakukan gerakan seperti meringis, membuat postur tubuh yang aneh, atau
mengulang-ulang ucapan orang lain.
Kadang-kadang, sebaliknya mungkin benar dan
orang-orang yang mengalami gangguan mental ini tampaknya cenderung terlibat
dalam aktivitas yang berlangsung tanpa tujuan yang jelas (misalnya, berjalan
segaris lurus berulang kali atau berulang kali melompat di tempat). Orang
dengan skizofrenia katatonik umumnya akan berjalan bolak-balik dengan perilaku
yang masih tenang sampai perilaku gelisah, atau bahkan dengan perilaku yang
tidak bertujuan sama sekali. Hal ini dapat menempatkan mereka pada peningkatan
risiko kekurangan gizi, kelelahan, atau cidera yang ditimbulkan sendiri.
d. Skizofrenia residual
Dalam jenis skizofrenia ini, gejala menurun
sesuai derajat keparahan. Pasien masih mungkin mengalami delusi, halusinasi,
atau gejala lain, tetapi gejala ini berkurang dibandingkan ketika skizofrenia
awalnya didiagnosis. Selain itu, masih harus ada bukti gangguan seperti yang
ditunjukkan oleh adanya beberapa gejala negatif (misalnya: wajah yang tidak
ekspresif, tampak kosong, berbicara dengan nada monoton, kurangnya minat
terhadap dunia dan orang lain, ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan atau
kegembiraan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar