Jumat, 12 September 2014

Skizofrenia

Baru aja nonton drama korea yang judulnya Its Ok Its Love di episode 13, nah di drama ini diceritain ternyata tokoh utama laki-lakinya ternyata mengidap gangguan psikologis yang disebut Skizofrenia. Jadinya pengen cari tahu lebih banyak tentang gangguan psikologis ini. Yok check this out ^^

Definisi Skizofrenia
Skizofrenia merupakan suatu gangguan kejiwaan kompleks di mana seseorang mengalami kesulitan dalam proses berpikir sehingga menimbulkan halusinasi, delusi, gangguan berpikir dan bicara atau perilaku yang tidak biasa (dikenal sebagai gejala psikotik). Karena gejala ini, orang dengan skizofrenia dapat mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mungkin menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar.

Gejala Skizofrenia
1.  Gejala positif
Fungsi otak dari penderita penyakit skizofrenia akan bekerja lebih aktif atau bisa dikatakan berlebihan, hal ini menyebabkan otak bekerja dengan tidak normal. Akibatnya, penderita akan mengalami beberapa hal seperti berikut ini:
·     Berkhayal
Ini merupakan hal yang paling umum dialami oleh para penderita, mereka memiliki keyakinan yang berbeda dengan orang normal. Mereka akan melihat realitas yang berbeda pula, selain itu, penderita juga sering salah menafsirkan persepsi.
·     Halusinasi
Orang yang mengalami penyakit ini sering berhalusinasi, mereka seringkali melihat atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
·     Gangguan pikiran
Penderita skizofrenia akan kesulitan berbicara dan mengatur pikirannya sehingga hal ini mengganggu kemampuan berkomunikasi.
·     Perilaku tidak teratur
Orang yang mengalami skizofrenia sering berperilaku aneh, seperti anak kecil yang melakukan hal-hal konyol.
2.  Gejala negatif
Gejala ini mengacu pada berkurangnya atau bahkan tidak adanya karakteristik fungsi otak yang normal, gejala ini mungkin muncul disertai atau tanpa adanya gejala positif. Gejala-gejala yang ditimbulkan antara lain :
·     Sulit mengekspresikan emosi.
·     Menarik diri dari lingkungan sosial.
·     Kehilangan motivasi.
·     Tidak minat melakukan kegiatan sehari-hari.
·     Mengabaikan kebersihan pribadi.
Gejala-gejala tersebut seringkali dianggap sebagai kemalasan yang biasa dialami oleh tiap orang. Namun, hal itu ternyata keliru.
3.  Gejala kognitif
Jenis gejala ini akan menimbulkan masalah pada proses berpikir, tanda dan gejala yang mungkin timbul, antara lain :
·     Masalah dalam membuat informasi yang masuk akal dan dapat dimengerti.
·     Sulit berkonsentrasi
·     Masalah pada memori otak
Selain ketiga gejala di atas, penyakit skizofrenia juga akan menimbulkan masalah pada suasana hati, para penderitanya akan mengalami depresi, cemas, dan seringkali mencoba untuk bunuh diri. Gejala-gejala dari penyakit ini lambat laun dapat melumpuhkan para penderitanya. Sebab, hal ini sangatlah mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan rutin sehari-hari.
Namun, apabila penderitanya masih berusia remaja, gejala yang ditimbulkan sulit untuk dideteksi dan kemudian dianggap sebagai penyakit skizofrenia. Sebab, pada usia tersebut mereka pasti akan mengalami hal-hal ini yang ternyata merupakan gejala dari penyakit skizofrenia :
1.  Menarik diri dari keluarga dan teman
2.  Penurunan kinerja di sekolah
3.  Sulit tidur
4.  Cepat emosi

Penyebab Skizofrenia
Faktor genetik dan lingkungan atau cedera otak sekitar masa kelahiran mungkin berperan. Masing-masing faktor ini diyakini akan meningkatkan risiko bagi individu tertentu untuk mengalami gejala psikotik, yang bisa dipicu oleh sejumlah peristiwa kehidupan dan situasi yang berbeda, seperti efek isolasi sosial dan stres, khususnya di sekitar awal masa dewasa. Narkoba, termasuk ganja, juga telah dikaitkan dengan pemicu terjadinya skizofrenia dan gejala psikotik sementara.
Ahli jiwa (Psikiater) sepakat bahwa gejala skizofrenia merupakan akibat dari masalah dalam mengirim, dan memproses informasi dalam otak. Masalah ini terjadi saat komunikasi normal antara sel-sel saraf otak yang terjadi akibat pelepasan bahan kimia tidak bekerja seperti seharusnya.

Jenis-jenis Skizofrenia
a.   Paranoid schizophrenia (skizofrenia paranoid)
Orang dengan tipe ini kerap disibukkan dengan keyakinan yang salah (delusi) bahwa mereka selalu dihukum atau dianiaya oleh seseorang. Cara berpikir, mengekspresikan emosi, dan cara bicara mereka cenderung normal.
b.  Disorganised schizophrenia (skizofrenia tidak teratur)
Orang dengan tipe ini sering bingung dan memiliki masalah dalam berbicara: entah tidak jelas atau bahkan sering campur-aduk. Sekilas dari tampak luar, emosi mereka datar atau tampak janggal, bahkan konyol atau kekanak-kanakan. Seringkali mereka mengalami kesulitan mengatur segala sesuatu  yang dapat mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan normal sehari-hari, seperti: menyiapkan makanan atau mengurus diri sendiri.
c.   Catatonic schizophrenia (skizofrenia katatonik)
Orang yang menderita skizofrenia katatonik cenderung enggan bergerak dan tidak responsif terhadap dunia di sekitar mereka. Mereka sering menjadi sangat kaku dan tidak mau bergerak – atau pasien melakukan  gerakan seperti meringis, membuat postur tubuh yang aneh, atau mengulang-ulang ucapan orang lain.
Kadang-kadang, sebaliknya mungkin benar dan orang-orang yang mengalami gangguan mental ini tampaknya cenderung terlibat dalam aktivitas yang berlangsung tanpa tujuan yang jelas (misalnya, berjalan segaris lurus berulang kali atau berulang kali melompat di tempat). Orang dengan skizofrenia katatonik umumnya akan berjalan bolak-balik dengan perilaku yang masih tenang sampai perilaku gelisah, atau bahkan dengan perilaku yang tidak bertujuan sama sekali. Hal ini dapat menempatkan mereka pada peningkatan risiko kekurangan gizi, kelelahan, atau cidera yang ditimbulkan sendiri.
d.  Skizofrenia residual

Dalam jenis skizofrenia ini, gejala menurun sesuai derajat keparahan. Pasien masih mungkin mengalami delusi, halusinasi, atau gejala lain, tetapi gejala ini berkurang dibandingkan ketika skizofrenia awalnya didiagnosis. Selain itu, masih harus ada bukti gangguan seperti yang ditunjukkan oleh adanya beberapa gejala negatif (misalnya: wajah yang tidak ekspresif, tampak kosong, berbicara dengan nada monoton, kurangnya minat terhadap dunia dan orang lain, ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan atau kegembiraan).

Tidak ada komentar: