Jumat, 12 September 2014

Pengembangan dan Penerapan Ergonomi

A. Penerapan Ergonomi
Telah diuraikan sebelumnya apa itu ergonomi, ergonomi baru bermanfaat bagi pembangunan apabila dilapangan tersebut diterapkan/dilaksanakan oleh tenaga kerja pada setiap tempat kerja. Untuk menuju penerapan tersebut, perlu adanya suatu kesepakatan tentang ergonomi pada umumnya dan norma-norma pada khususnya. 
Norma-norma ergonomi, memudahkan penerapannya oleh semua pihak yang bersangkutan. Norma-norma ini dapat dipergunakan pula dalam penyuluhan, pelatihan, pemberian jasa keahlian dan untuk keperluan pengawasan.

B. Norma dalam Pembebanan Kerja Fisik
Ciri tenaga kerja Indonesia, dalam menentukan beban kerja fisik bagi pekerja kasar tanpa ketrampilan khusus perlu diperhatikan kondisi tenaga kerja Indonesia yang dipengaruhi oleh iklim tropis, kondisi sosial ekonomi dan derajat kesehatan pada umumnya yang belum memuaskan.
Kriteria pembebanan, pembebanan fisik yang dibenarkan adalah pembebanan yang tidak melebihi 30-40% dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja dalam 8 jam sehari dengan memperhatikan peraturan jam kerja yang berlaku. Pembebanan yang lebih berat hanya diperkenankan dalam waktu yang lebih singkat dan ditambah dengan istirahat yang sesuai dengan ditambah beratnya badan.
Rekomendasi kuantitatif, dalam hal beban fisik mengangkat dan mengangkut, batas berat beban yang diperkenankan perlu disesuaikan dengan kondisi fisik tenaga kerja Indonesia. Berdasarkan hasil beberapa observasi beban tersebut adalah 40 kg. Bila mengangkat dan mengangkut dikerjakan lebih dari sekali maka beban maksimum tersebut diatas harus disesuaikan.
Pendekatan praktis, oleh karena untuk menetapkan kemampuan kerja maksimum sangat sulit, sebagai paramater prtsktis dipergunakan pengukuran denyut nadi yang diusahakan tidak lebih dari 30-40 permenit diatas denyut nadi sebelum bekerja. Dengan kriteria tersebut diatas, tenaga kerja mampu bekerja 8 jam sehari dan 40 jam seminggu. Bila denyut nadi melebihi kriteria tersebut diatas, lama jam kerja harus dikurangi.

C. Sikap Tubuh dalam Bekerja
Sikap tubuh maksudnya adalah sikap yang ergonomik dalam bekerja sehingga dicapai efisiensi kerja dan produktivitas yang optimal dengan memberikan rasa nyaman dalam bekerja. Agar selalu diusahakan bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan sikap yang ergonomik
Untuk sikap tubuh dalam bekerja yang ergonomik diatas, perlu dibuat atau ditentukan kriteria dan ukuran-ukuran baku tentang tempat duduk, meja kerja dengan berpedoman pada ukuran-ukuran antropometris orang Indonesia umumnya.

D. Mengangkat dan Mengangkut
Kegiatan-kegiatan mengangkat dan mengangkut banyak terdapat dalam lingkungan pabrik-pabrik, pelabuhan, perhubungan darat, pertanian, perkebunan, kehutanan dan sektor kegiatan ekonomi lainnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan mengangkat dan mengangkut antara lain: beban yang diperkenankan, jarak angkut dan intensitas pembebanan, kondisi lingkungan kerja yaitu licin, kasar, naik atau turun, keterampilan bekerja, peralatan kerja beserta keamanannya.
Cara-cara mengangkat dan mengangkut yang baik harus memenuhi dua prinsip yaitu: beban diusahakan menekan pada otot tulang tungkai yang kuat dan sebanyak mungkin otot tulang belakang yang lebih lemah dibebaskan dari pembebanan. Momentum gerak badan dimanfaatkan untuk mengawali gerakan.
Dari dua prinsip kinetik diatas kegiatan mengangkat dan mengangkut dilakukan sbb: pegangan harus tepat. Lengan harus berada sdekat-dekatnya pada badan dan dalam posisi lurus. Punggung harus diluruskan. Dagu ditarik segera setalah kepala bidsa ditegakkan lagi pada permulaan gerakan. Posisi kaki dibuat sedemikian rupa sehingga mampu untuk mengimbangi momentum yang terjadi dalam posisi mengangkat.
Berat badan dimanfaatkan untuk menarik dan mendorong. Gaya  untuk gerakan dan perimbangan. Beban diusahakan berada sedekat mungkin terhadap garis vertikal yang melalui pusat gravitasi tu buh. Untuk efisiensi kerja dan kenyamanan kerja yang sebesar-besarnya, hendaknya dihindari sejauh mungkin bahwa manusia sebagai “alat utama” untuk mengangkat dan mengangkut.

E. Olahraga dan Kesegaran Jasmani
Mengingat pentingnya olah raga dan kesegaran jasmani untuk kesehatan dan produktivitas, maka pembinaan kesegaran jasmani perlu mendapat perhatian yang lebih sungguh-sungguh baik berupa pelaksanaan pembinaan kesegaran jasmani yang khusus maupun melalui berbagai kegiatan olah raga.
Keadaan di perusahaan, mengingat berbagai keadaan diperusahaan tidak sama dan juga kegiatan fisik berbagai pekerjaan berbeda-beda, maka pelaksanaan pembinaan kesegaran jasmani dan kegiatan olah raga selalu disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan perusahaan.
Cara-cara, pembinaan kesehatan jasmani perlu dilaksanakan sejak seleksi karyawan yang berupa tes kesehatan jasmani. Pembinaan kesjani bagi karyawan dapat dilaksanakan, misalnya dengan program aerobik dari cooper. Disamping itu, perlu digalakkan olah raga atau kegiatan fisik lainnya. Pelaksanaan kesehatan jasmani dapat dikaitkan dengan pembinaan kesehatan dan kesejahteraan.

F. Musik dan Dekorasi
Penggunaan dan pengaturan yang tepat musik dan dekorasi termasuk tata warna dapat meningkatkan kegairahan dan produktivitas kerja. Musik yang tepat menyangkut jenis, saat, lama dan intensitas serta sifat pekerjaan. Dekorasi termasuk tata warna yang tepat bertalian dengan jenis pekerjaan dengan ketiga sifat warna yaitu; kesan jarak, kesan psikis dan kesan suhu.

G. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja harus memberi ruang gerak secukupnya bagi tubuh dan anggota-anggota badan sehingga dapat bergerak secara leluasa dan efisien.
Penempatan tempat duduk, tangkai dan tombol-tombol pelayanan alat-alat petunjuk dll diatur sedemikian rupa, sehingga memungkinkan pelayanan yang efisien serta sikap tubuh yang wajar.
Iklim ditempat kerja diatur supaya nyaman sesuai dengan sifat pekerjaan yang dilakukan, tempertur dianjurkan pemakaian cara-cara alamiah yaitu 24-26 derajat celcius suhu kering pada kelembaban 65-95%. Sedapat mungkin pada penggunaan AC, diusahakan agar perbedaan temperatur dengan udara luar tidak melebih 4-5 derajat celcius. Dianjurkan diutamakan ventilasi alamiah terkecuali dalam hal tidak memungkinkan.

H. Khusus
Waktu kerja dan istirahat bagi tenaga kerja harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku. Tiap-tiap penambahan yang menyimpang diatas ketentuan harus diimbangi dengan tambahan istirahat.
Atas pertimbangan sosiologis, kesehatan, agama dll istirahat atau cuti dapat diberikan menurut perjanjian kerja atau kesepakatan bersama. Lama dan saat istirahat perlu disesuaikan dengan jenis-jenis pekerjaan.  Rasa nyaman dalam perjalanan kereta api, bus, dll sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu; tempat duduk, tempat tidur, tempat berdiri, ventilasi yaitu AC dan kipas angin serta susun an ruang penumpang, restorasi dan fasilitas saniter.
Dalam hal ini ergonomi merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan, sehingga penerapannya perlu ditangani secara menyeluruh. Dalam pembangunan sarana pendidikan yang meliputi gedung, bangku, meja, fasilitas laboratorium dsb terutama bertalian dengan ergonomi perlu diperhatikan sejak perencanaan penerangan, ventilasi dan perlengkapan lainnya.

I. Program-program
Program jangka pendek ialah memberikan penyuluhan dan penerangan kepada mereka yang bertalian dengan pengambilan kebijaksanaan dan juga kepada pimpinan perusahaan, pimpinan pekerja dan seluruh karyawan. Program jangka panjang ialah membudayakan ergonomi kepada seluruh masyarakat antara lain lewat pendidikan masyarakat dan pendidikan formal. 

J. Pengembangan Kegiatan
Dengan pengembangan kegiatan diharapkan bahwa dunia usaha termasuk pengusaha dan tenaga kerja memikul tanggung jawab mengenai ergonomi, mengambil peranan dalam pelaksanaannya dan memetik manfaatnya. Lebih dari itu, dunia usaha harus kreatif dan inovatif untuk menerapkan ergonomi tersebut.

Selain dunia usaha, segenap kegiatan pembangunan juga menerapkan ergonomi untuk meningkatkan produktivitas kerja dan kesejahteraan tenaga kerja serta menjamin kualitas produk dari setiap proses produksi.

Tidak ada komentar: