A. Penerapan Ergonomi
Telah diuraikan
sebelumnya apa itu ergonomi, ergonomi baru bermanfaat bagi pembangunan apabila
dilapangan tersebut diterapkan/dilaksanakan oleh tenaga kerja pada setiap
tempat kerja. Untuk menuju penerapan tersebut, perlu adanya suatu kesepakatan
tentang ergonomi pada umumnya dan norma-norma pada khususnya.
Norma-norma ergonomi,
memudahkan penerapannya oleh semua pihak yang bersangkutan. Norma-norma ini
dapat dipergunakan pula dalam penyuluhan, pelatihan, pemberian jasa keahlian
dan untuk keperluan pengawasan.
B. Norma dalam Pembebanan Kerja Fisik
Ciri tenaga kerja
Indonesia, dalam menentukan beban kerja fisik bagi pekerja kasar tanpa
ketrampilan khusus perlu diperhatikan kondisi tenaga kerja Indonesia yang
dipengaruhi oleh iklim tropis, kondisi sosial ekonomi dan derajat kesehatan
pada umumnya yang belum memuaskan.
Kriteria pembebanan,
pembebanan fisik yang dibenarkan adalah pembebanan yang tidak melebihi 30-40%
dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja dalam 8 jam sehari dengan
memperhatikan peraturan jam kerja yang berlaku. Pembebanan yang lebih berat
hanya diperkenankan dalam waktu yang lebih singkat dan ditambah dengan
istirahat yang sesuai dengan ditambah beratnya badan.
Rekomendasi kuantitatif,
dalam hal beban fisik mengangkat dan mengangkut, batas berat beban yang
diperkenankan perlu disesuaikan dengan kondisi fisik tenaga kerja Indonesia.
Berdasarkan hasil beberapa observasi beban tersebut adalah 40 kg. Bila
mengangkat dan mengangkut dikerjakan lebih dari sekali maka beban maksimum
tersebut diatas harus disesuaikan.
Pendekatan praktis, oleh
karena untuk menetapkan kemampuan kerja maksimum sangat sulit, sebagai
paramater prtsktis dipergunakan pengukuran denyut nadi yang diusahakan tidak
lebih dari 30-40 permenit diatas denyut nadi sebelum bekerja. Dengan kriteria
tersebut diatas, tenaga kerja mampu bekerja 8 jam sehari dan 40 jam seminggu.
Bila denyut nadi melebihi kriteria tersebut diatas, lama jam kerja harus
dikurangi.
C. Sikap Tubuh dalam Bekerja
Sikap tubuh maksudnya
adalah sikap yang ergonomik dalam bekerja sehingga dicapai efisiensi kerja dan
produktivitas yang optimal dengan memberikan rasa nyaman dalam bekerja. Agar
selalu diusahakan bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan sikap yang
ergonomik
Untuk sikap tubuh dalam
bekerja yang ergonomik diatas, perlu dibuat atau ditentukan kriteria dan
ukuran-ukuran baku tentang tempat duduk, meja kerja dengan berpedoman pada
ukuran-ukuran antropometris orang Indonesia umumnya.
D. Mengangkat dan Mengangkut
Kegiatan-kegiatan
mengangkat dan mengangkut banyak terdapat dalam lingkungan pabrik-pabrik,
pelabuhan, perhubungan darat, pertanian, perkebunan, kehutanan dan sektor
kegiatan ekonomi lainnya.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi kegiatan mengangkat dan mengangkut antara lain: beban yang
diperkenankan, jarak angkut dan intensitas pembebanan, kondisi lingkungan kerja
yaitu licin, kasar, naik atau turun, keterampilan bekerja, peralatan kerja
beserta keamanannya.
Cara-cara mengangkat dan
mengangkut yang baik harus memenuhi dua prinsip yaitu: beban diusahakan menekan
pada otot tulang tungkai yang kuat dan sebanyak mungkin otot tulang belakang
yang lebih lemah dibebaskan dari pembebanan. Momentum gerak badan dimanfaatkan
untuk mengawali gerakan.
Dari dua prinsip kinetik
diatas kegiatan mengangkat dan mengangkut dilakukan sbb: pegangan harus tepat.
Lengan harus berada sdekat-dekatnya pada badan dan dalam posisi lurus. Punggung
harus diluruskan. Dagu ditarik segera setalah kepala bidsa ditegakkan lagi pada
permulaan gerakan. Posisi kaki dibuat sedemikian rupa sehingga mampu untuk
mengimbangi momentum yang terjadi dalam posisi mengangkat.
Berat badan dimanfaatkan
untuk menarik dan mendorong. Gaya untuk gerakan dan perimbangan. Beban
diusahakan berada sedekat mungkin terhadap garis vertikal yang melalui pusat
gravitasi tu buh. Untuk efisiensi kerja dan kenyamanan kerja yang
sebesar-besarnya, hendaknya dihindari sejauh mungkin bahwa manusia sebagai
“alat utama” untuk mengangkat dan mengangkut.
E. Olahraga dan Kesegaran Jasmani
Mengingat pentingnya
olah raga dan kesegaran jasmani untuk kesehatan dan produktivitas, maka
pembinaan kesegaran jasmani perlu mendapat perhatian yang lebih sungguh-sungguh
baik berupa pelaksanaan pembinaan kesegaran jasmani yang khusus maupun melalui
berbagai kegiatan olah raga.
Keadaan di perusahaan, mengingat berbagai keadaan diperusahaan tidak sama
dan juga kegiatan fisik berbagai pekerjaan berbeda-beda, maka pelaksanaan
pembinaan kesegaran jasmani dan kegiatan olah raga selalu disesuaikan dengan
situasi, kondisi, dan kebutuhan perusahaan.
Cara-cara, pembinaan
kesehatan jasmani perlu dilaksanakan sejak seleksi karyawan yang berupa tes
kesehatan jasmani. Pembinaan kesjani bagi karyawan dapat dilaksanakan, misalnya
dengan program aerobik dari cooper. Disamping itu, perlu digalakkan olah raga
atau kegiatan fisik lainnya. Pelaksanaan kesehatan jasmani dapat dikaitkan
dengan pembinaan kesehatan dan kesejahteraan.
F. Musik dan Dekorasi
Penggunaan dan
pengaturan yang tepat musik dan dekorasi termasuk tata warna dapat meningkatkan
kegairahan dan produktivitas kerja. Musik yang tepat menyangkut jenis, saat,
lama dan intensitas serta sifat pekerjaan. Dekorasi termasuk tata warna yang
tepat bertalian dengan jenis pekerjaan dengan ketiga sifat warna yaitu; kesan jarak,
kesan psikis dan kesan suhu.
G. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja harus
memberi ruang gerak secukupnya bagi tubuh dan anggota-anggota badan sehingga
dapat bergerak secara leluasa dan efisien.
Penempatan tempat duduk, tangkai dan tombol-tombol pelayanan alat-alat
petunjuk dll diatur sedemikian rupa, sehingga memungkinkan pelayanan yang
efisien serta sikap tubuh yang wajar.
Iklim ditempat kerja
diatur supaya nyaman sesuai dengan sifat pekerjaan yang dilakukan, tempertur
dianjurkan pemakaian cara-cara alamiah yaitu 24-26 derajat celcius suhu
kering pada kelembaban 65-95%. Sedapat mungkin pada penggunaan AC,
diusahakan agar perbedaan temperatur dengan udara luar tidak melebih 4-5
derajat celcius. Dianjurkan diutamakan ventilasi alamiah terkecuali dalam hal
tidak memungkinkan.
H. Khusus
Waktu kerja dan
istirahat bagi tenaga kerja harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan
pemerintah yang berlaku. Tiap-tiap penambahan yang menyimpang diatas ketentuan
harus diimbangi dengan tambahan istirahat.
Atas pertimbangan
sosiologis, kesehatan, agama dll istirahat atau cuti dapat diberikan menurut
perjanjian kerja atau kesepakatan bersama. Lama dan saat istirahat perlu
disesuaikan dengan jenis-jenis pekerjaan. Rasa nyaman dalam perjalanan
kereta api, bus, dll sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu; tempat
duduk, tempat tidur, tempat berdiri, ventilasi yaitu AC dan kipas angin serta
susun an ruang penumpang, restorasi dan fasilitas saniter.
Dalam hal ini ergonomi
merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan, sehingga penerapannya perlu
ditangani secara menyeluruh. Dalam pembangunan sarana pendidikan yang meliputi
gedung, bangku, meja, fasilitas laboratorium dsb terutama bertalian dengan
ergonomi perlu diperhatikan sejak perencanaan penerangan, ventilasi dan perlengkapan
lainnya.
I. Program-program
Program jangka pendek
ialah memberikan penyuluhan dan penerangan kepada mereka yang bertalian dengan
pengambilan kebijaksanaan dan juga kepada pimpinan perusahaan, pimpinan pekerja
dan seluruh karyawan. Program jangka panjang ialah membudayakan ergonomi kepada
seluruh masyarakat antara lain lewat pendidikan masyarakat dan pendidikan
formal.
J. Pengembangan Kegiatan
Dengan pengembangan
kegiatan diharapkan bahwa dunia usaha termasuk pengusaha dan tenaga kerja memikul
tanggung jawab mengenai ergonomi, mengambil peranan dalam pelaksanaannya dan
memetik manfaatnya. Lebih dari itu, dunia usaha harus kreatif dan inovatif
untuk menerapkan ergonomi tersebut.
Selain dunia usaha, segenap kegiatan pembangunan juga menerapkan ergonomi
untuk meningkatkan produktivitas kerja dan kesejahteraan tenaga kerja serta
menjamin kualitas produk dari setiap proses produksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar