A. Prinsip Ergonomi
Dalam pendekatan ergonomi
memerlukan keselarasan antara kemampuan tubuh dan pekerjaan. Sikap tubuh serta
aktivitas tertentu terhadap alat kerja berpotensi menimbulkan suatu gangguan
kesehatan bahkan penyakit. Jika alat kerja dan lingkungan fisik tidak sesuai
dengan kemampuan alamiah tenaga kerja hasil kerjanya tidak akan optimal, bahkan
berpotensi mengakibatkan penyakit akibat kerja (PAK).
Pelayanan kesehatan kerja yang
diberikan melalui penerapan ergonomi diharapkan dapat meningkatkan mutu kehidupan
kerja (quality of working life). Hal ini berimplikasi pada peningkatan
produktivitas kerja serta penurunan prevalensi PAK, proses kerja, dan
lingkungan kerja. dalam penerapan ergonomi, termasuk pula cara-cara penyesuaian
pekerjaan, alat kerja, dan lingkungan kerja dengan manusia.
Dalam hal ini, memperhatikan
kemampuan dan keterbatasan manusia yang bersangkutan sehingga tercapai suatu
keserasian antara manusia dan pekerjaannya yang akan meningkatkan kenyamanan
dan produktivitas kerja. Masih banyak industri dan berbagai sektor, lebih lagi
sektor informal belum menjadikan ergonomi sebagai prioritas dalam merancang
lingkungan kerja.
Penerapan ergonomi dapat
mengurangi beban kerja dengan melakukan evaluasi fisiologis, psikologis, atau
cara-cara tidak langsung, beban kerja dapat diukur untuk selanjutnya dilakukan
modifikasi yang sesuai dengan kapasitas dan beban kerja yang ada. Sebaliknya,
tanpa memperhitungkan ergonomi bukan mustahil produktivitas kerja akan semakin
menurun tanpa disadari dan timbulnya berbagai keluhan dari tenaga kerja.
Beberapa prinsip ergonomi,
antara lain: ergonomi dapat digunakan dalam menelaah sistem manusia dan
produksi yang komplek. Ini berlaku baik dalam industri maupun sektor informal.
Dengan mengetahui prinsip ergonomi tersebut dapat ditentukan pekerjaan apa yang
sesuai bagi tenaga kerja atau konstruksi alat yang seperti apa yang layak
digunakan agar mengurangi kemungkinan keluhan dan menunjang produktivitas.
Ada dua pendekatan yang dapat
dilakukan dalam penerapan ergonomi, antara lain:
a.
Pendekatan kuratif, dilakukan pada suatu
proses yang sudah atau sedang berlangsung. Kegiatannya berupa intervensi,
modifikasi, atau perbaikan dari proses yang telah berjalan, sasarannya adalah
kondisi kerja dan lingkungan kerja dalam pelaksanaannya terkait tenaga kerja
dan proses kerja yang sedang berlangsung.
b.
Pendekatan konseptual, yang dikenal
sebagai pendekatan sistem dan akan sangat efektif dan efesien jika dilakukan
pada saat penerapan. Penerapannya bersama-sama dengan kajian lain, misalnya
kajian teknis, ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan. Pendekatan holoistik ini
dikenal dengan pendekatan teknologi tepat guna.
Contoh beberapa prinsip ergonomi, antara lain:
-
Sikap tubuh dalam pekerjaan sangat
dipengaruhi oleh bentuk, susunan, ukuran, dan tata letak peralatan, cara
memperlakukan peralatan seperti macam gerak, arah, dan kekuatan
-
Normalisasi ukuran peralatan harus diambil
ukuran terbesar sebagai dasar yang dapat dinaik turunkan, distel maju dan
mundur, dll
Ukuran-ukuran kerja dengan menganut sistem antropometri harus menjadi
pertimbangan utama. Dari sudut otot, sikap duduk yang paling baik adalah
sedikit membungkuk, namun dari sudut tulang lebih baik tegak agar punggung
tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. Arah penglihatan untuk pekerja yang
berdiri adalah 23-27o ke bawah, untuk pekerjaan duduk 32-44o ke
bawah.
Gerakan ritmis seperti memutar roda, mengayuh, mendayung, memerlukan
frekuensi optimal seperti 60x/menit. Beban tambahan akibat lingkungan harus ditekan
sekecil mungkin. Batar kesanggupan kerja sudah tercapai, apabila bilangan nadi
kerja menjadi 30/menit di atas bilangan nadi istirahat.
Kemapuan seseorang bekerja sehari adalah 8-10 jam. Lebih dari itu efesiensi
dan kualitas kerja sangat menurun. Kondisi mental psikologis dipertahankan
dengan motivasi, iklim kerja yang baik, dll.
B. Sikap Tubuh dalam Bekerja
Beberapa hal yang berkaitan
dengan sikap tubuh dalam melakukan pekerjaannya yaitu:
-
Semua pekerjaan hendaknya dilakukan dalam
sikap duduk atau sikap berdiri secara bergantian
-
Semua sikap tubuh yang tidak alami harus
dihindarkan. Seandainya hal ini tidak memungkinkan, hendaknya diusahakan agar
bebab statistik diperkecil.
Tempat duduk harus dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak membebani,
melainkan dapat memberikan relaksasi pada otot-otot yang sedang tidak dipakai
untuk bekerja dan tidak menimbulkan penekanan pada bagian tubuh (paha). Hal ini
dimaksudkan untuk mencegah terjadinya gangguan sirkulasi darah dan sensibilitas
pada paha, mencegah keluhan kesemutan yang dapat menganggu aktivitas.
C. Mengangkat dan Mengangkut
Beberapa faktor yang
mempengaruhi kegiatan mengangkat dan mengangkut, sbb:
-
Beban yang diperbolehkan, jarak, dan
intensitas pembebanan kondisi lingkungan kerja
-
Keterampilan
-
Peralatan kerja serta keamanannya
Pekerjaan mengangkat dan mengangkut, pencegahan terhadap kerusakan tulang
belakang perlu mendapatkan perhatian serius. Tulang belakang yang berbentuk “S”
terbalik, pada bagian dada tulang ini melengkung ke belakang, disebut kifosis,
sedangkan pada bagian pinggang tulang ini melengkung ke depan disebut lordosis.
Beban pada tulang belakang bertambah dari atas ke bawah dan terbesar pada
ruas-ruas tulang belakang. Di antara ruas tulang belakang terdapat lempeng (discus
intervertebralis), lempeng ini merupakan suatu zat cair yang kental serta
berfungsi sebagai bantalan dan memberikan sifat lentur pada tulang belakang.
Pada pekerjaan mengangkat dan mengangkut beban yang berat, cara mengangkat
yang salah dengan pembebanan yang tiba-tiba dapat menyebabkan robeknya bagian
luar lempeng. Keadaan ini mengakibatkan bagian dari dalam lempeng menojol
keluar serta menekan saraf-saraf yang berada di sekitarnya, merupakan penyebab
dari keluhan sakit punggung (lumbago) dan kelumpuhan.
D. Jam Kerja
Jam kerja selama 8 jam perhari,
diusahakan sedapat mungkin tidak dilampaui, apabila hal ini tidak dapat
dihindari, perlu diusahakan grup kerja baru atau pengadaan kerja filir (shift
work). Kerja lembur sedapat mungkin ditiadakan, karena beberapa penelitian
menunjukkan bahwa kerja lembur menurunkan efesiensi dan produktivitas kerja
serta meningkatkan angka kecelakaan dan sakit.
E. Penanggulangan Ergonomi
Aplikasi ergonomi dapat
dilaksanakan dengan prinsip pemecahan masalah. Pertama: melakukan identifikasi
masalah yang sedang dihadapi dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi.
Kedua: menetukan prioritas masalah dan masalah yang paling mecolok harus
ditangani lebih dulu, kemudian dilakukan analisa untuk menentukan alternatif
intervensi.
Lima hal yang perlu diperhatikan
dalam penerapan ergonomi:
a.
Kondi fisik, mental, dan sosial harus
diusahakan sebaik mungkin, sehingga didapat tenaga yang sehat dan produktif.
b.
Kemampuan jasmani, dapat diketahui dengan
melakukan pemeriksaan antropometri, lingkup gerak sendi, dan kekuatan otot.
c.
Lingkungan kerja, harus memberikan ruang
gerak secukupnya bagi tubuh dan anggota tubuh sehingga dapat bergerak secara
leluasa dan efesien.
d.
Pembebanan kerja fisik, selama bekerja
peredaran darah dapat meningkat 10-20 kali, meningkatnya peredaran darah pada
otot-otot yang bekerja, memaksa jantung untuk memompa darah lebih banyak.
e.
Sikap tubuh dalam bekerja, sikap tubuh
dalam bekerja berhubungan dengan tempat duduk, meja kerja, dan luas pandangan.
Untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapan yang dipergunakan, diperlukan
ukuran-ukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh yang paling alamiah dan
memungkinkan dilakukan gerakan-gerakan yang dibutuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar