Kamis, 04 September 2014

Ice Bucket Challenge dan ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)

Di media sosial maupun acara-acara televisis saat ini lagi dihebohkan dengan video beberapa orang, baik orang biasa maupun selebriti dan orang terkenal lainnya yang mengguyur kepala mereka dengan seember air es dalam rangka melakukan tantangan Ice Bucket Challenge yang bertujuan untuk mengumpulkan dana penelitian mengenai penyakit ALS.

Apa itu Ice Bucket Challenge?
Ice Bucket Challenge (Tantangan Menyiram Air Es) merupakan kegiatan yang bertujuan untuk penggalangan dana penelitian mengenai penyakit ALS serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis). Kegiatan ini mengharuskan seseorang yang mendapat tantangan untuk memilih melakukan tantangan ini yaitu dengan mengguyur seember air es ke atas kepala ataupun menyumbang sejumlah uang ke ALS Association. Batas waktu menjawab tantangan ini adalah 24 jam, dan jika tantangan sudah dilakukan maka orang tersebut berhak memberikan tantangan kepada tiga orang lainnya untuk melakukan tantangan serupa.

Sejarah Ice Bucket Challenge
Asal-usul dari Ice Bucket Challenge sendiri tidak jelas. Namun, Cold Water Challenge disebut-sebut sebagai asal-muasal lahirnya tantangan unik itu. Tantangan ini sempat populer di media sosial, khususnya di daerah-daerah di utara Amerika. Kegiatan ini dilakukan dengan menantang peserta untuk menyumbangkan uang mereka untuk penelitian kanker atau mengambil tantangan melompat ke dalam air dingin. 
Sebagaimana dilansir Wikipedia, divisi Sheaves For Christ dari General Youth Division UPCI adalah komunitas pertama yang mulai menyebarkan virus ini ke seluruh Amerika. Dalam sebuah video yang dirilis pada 26 April lalu, Amado Huizar menantang orang-orang untuk menyumbangkan USD 100 (Rp 1,1 juta) untuk misi penggalangan dana Sheaves For Christ atau melompat ke dalam air es. Videonya kemudian menjadi viral di internet dan telah ditiru oleh banyak orang. 
Cold Water Challenge juga sempat diterapkan di Selandia Baru pada 4 Juli 2014. Kampanye itu dilakukan untuk menggalang dana bagi pasien kanker. Seperti tantangan sebelumnya, mereka yang terlibat dalam kegiatan ini akan memfilmkan aksi mereka, dan kemudian membagikan rekaman tersebut secara online untuk mencari perhatian publik. 
Ice Bucket Challenge mulai mewabah di Amerika ketika pada 30 Juni sebuah program TV Amerika, Golf Channel Morning Show, mengulas tentang fenomena media sosial dan kemudian melakukan Ice Bucket Challenge secara live. Segera setelah itu, pada 15 Juli seorang pegolf bernama Chris Kennedy melakukan tantangan yang sama dan menantang sepupunya Jeanette Senerchia dari Pelham, New York. Dan kebetulan suami Jeanette, Anthony, telah menderita ALS selama 11 tahun. 
Sehari kemudian, Jeanette melakukan tantangan itu, sementara putrinya yang baru berusia 6 tahun memfilmkan aksinya di depan rumah mereka. Meski awalnya hanya sekadar iseng semata, aksi Jeanette secara tidak sengaja diketahui Pat Quinn, 31 tahun dari Yonkers, New York, yang juga didiagnosis dengan ALS pada Maret 2013. Pat mengetahuinya dari akun facebook Jeanette. 
Tantangan itu pun menyebar dari satu mulut ke mulut lainnya, dan mantan pemain bisbol Boston College, Pete Frates, yang juga menderita ALS mulai mem-posting tantangan tersebut di Twitter. Bisa ditebak, Ice Bucket Challenge langsung menjadi viral di dunia maya.

          Itu dia penjelasan singkat mengenai Ice Bucket Challenging, nah sekarang apa itu penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)?

ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)
ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) berasal dari bahasa Yunani yang artinya A (tidak ada), Myo (otot), Trophic (asupan) yang berarti tidak adanya asupan atau impuls listrik ke otot. Lateral menunjukkan daerah di sumsum tulang belakang manusia yang memberikan rangsangan kepada otot-otot penggerak. Sclerosis yang berarti jika sel saraf yang memberikan rangsangan otot gerak ini mati, maka akan terjadi pengerasan dan jaringan parut. Jadi secara ringkas, ALS adalah penyakit dimana sel saraf yang berfungsi memberi rangsangan kepada otot mati sehingga sinyal dari otak tidak berjalan sampai ke otot.

Gejala ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)
Gejala ALS biasanya belum tampak hingga penderita berusia 50 tahun, namun bisa muncul perlahan di usia muda. Pada awalnya pasien ALS dapat menunjukkan gejala kelemahan otot yang ringan. Jika mengenai tungkai maka ketika berjalan tiba-tiba mengalami kram di kaki, atau mendadak jatuh saat berdiri. Bila menyerang lengan maka pasien mengalamii kesulitan saat memakai baju, tangan susah masuk ke baju. Kesulitan menulis atau saat akan menyalakan kendaraan (motor, mobil) tidak mampu memutar kunci kontak.  Seperempat pasien (25%) mengalami kesulitan dalam berbicara. Bicaranya tidak jelas, terbata-bata, atau gagap. Kadang seperti bindeng. Sebagian mengalami gangguan gerakan lidah, sehingga seperti celad atau Pelo. Ada yang mengalami gangguan pernafasan atau sesak karena otot dinding dada terganggu. 

Penyebab ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)
Saat ini penyebab ALS belum diketahui. Faktor genetik dan lingkungan dapat turut berperan sebagai faktor risiko. Faktor risiko lainnya adalah usia, yang terkait dengan proses penuaan. Meskipun dapat menjangkiti usia muda, kebanyakan penderita ALS berusia tua.
Diagnosa ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)
Tidak ada pemeriksaan khusus yang bisa mendiagnosis secara pasti ALS. Diagnosis ALS berdasarkan gejala dan tanda klinis yang dikeluhkan pasien dan dengan pemeriksaan dokter sambil menyingkirkan kemungkinan diagnosis lain. Pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan untuk diperiksa pada dugaan ALS adalah pemeriksaan darah lengkap, pungsi lumbal (pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang), neurofisiologi (EMG, kecepatan konduksi saraf), dan radiologi (MRI/CT Scan).
Pemeriksaan penunjang yang cukup membantu diagnosis adalah EMG (Elektro Miografi). Sambil mengevaluasi kelemahan otot, otot yang mengalami atropi (pengecilan), reflex otot yang berlebihan, serta spastisitas (kekakuan) otot. Pemeriksaan EMG dapat mendeteksi aktifitas listrik otot.
Sedangkan pemeriksaan MRI dapat membantu menyingkirkan kemungkinan diagnosis lain yang mirip ALS seperti: tumor medulla spinalis, Multipel sclerosis, Herniasi saraf di daerah leher, Syringomyelia atau Spondilosis servikal. Tetap diperlukan pemeriksaan tes darah dan urin sebagai pemeriksaan rutin. Sebab ALS gejalanya mirip penyakit infeksi seperti: HIV, penyakit Lyme, Sifilis, dan Ensefalitis.



Tidak ada komentar: