Di
media sosial maupun acara-acara televisis saat ini lagi dihebohkan dengan video
beberapa orang, baik orang biasa maupun selebriti dan orang terkenal lainnya yang
mengguyur kepala mereka dengan seember air es dalam rangka melakukan tantangan Ice Bucket Challenge yang bertujuan
untuk mengumpulkan dana penelitian mengenai penyakit ALS.
Apa
itu Ice Bucket Challenge?
Ice Bucket Challenge (Tantangan Menyiram Air Es)
merupakan kegiatan yang bertujuan untuk penggalangan dana penelitian mengenai penyakit
ALS serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis). Kegiatan
ini mengharuskan seseorang yang mendapat tantangan untuk memilih melakukan tantangan
ini yaitu dengan mengguyur seember air es ke atas kepala ataupun menyumbang
sejumlah uang ke ALS Association. Batas
waktu menjawab tantangan ini adalah 24 jam, dan jika tantangan sudah dilakukan
maka orang tersebut berhak memberikan tantangan kepada tiga orang lainnya untuk
melakukan tantangan serupa.
Sejarah
Ice Bucket Challenge
Asal-usul dari Ice Bucket
Challenge sendiri tidak jelas. Namun, Cold
Water Challenge disebut-sebut sebagai asal-muasal lahirnya tantangan unik
itu. Tantangan ini sempat populer di media sosial, khususnya di daerah-daerah
di utara Amerika. Kegiatan ini dilakukan dengan menantang peserta untuk
menyumbangkan uang mereka untuk penelitian kanker atau mengambil tantangan
melompat ke dalam air dingin.
Sebagaimana dilansir
Wikipedia, divisi Sheaves For Christ dari General Youth Division UPCI adalah
komunitas pertama yang mulai menyebarkan virus ini ke seluruh Amerika. Dalam
sebuah video yang dirilis pada 26 April lalu, Amado Huizar menantang
orang-orang untuk menyumbangkan USD 100 (Rp 1,1 juta) untuk misi penggalangan
dana Sheaves For Christ atau melompat ke dalam air es. Videonya kemudian
menjadi viral di internet dan telah ditiru oleh banyak orang.
Cold Water
Challenge
juga sempat diterapkan di Selandia Baru pada 4 Juli 2014. Kampanye itu
dilakukan untuk menggalang dana bagi pasien kanker. Seperti tantangan sebelumnya,
mereka yang terlibat dalam kegiatan ini akan memfilmkan aksi mereka, dan
kemudian membagikan rekaman tersebut secara online untuk mencari perhatian
publik.
Ice Bucket
Challenge
mulai mewabah di Amerika ketika pada 30 Juni sebuah program TV Amerika, Golf Channel Morning Show, mengulas
tentang fenomena media sosial dan kemudian melakukan Ice Bucket Challenge
secara live. Segera setelah itu, pada 15 Juli seorang pegolf bernama Chris
Kennedy melakukan tantangan yang sama dan menantang sepupunya Jeanette
Senerchia dari Pelham, New York. Dan kebetulan suami Jeanette, Anthony, telah
menderita ALS selama 11 tahun.
Sehari kemudian, Jeanette
melakukan tantangan itu, sementara putrinya yang baru berusia 6 tahun
memfilmkan aksinya di depan rumah mereka. Meski awalnya hanya sekadar iseng
semata, aksi Jeanette secara tidak sengaja diketahui Pat Quinn, 31 tahun dari
Yonkers, New York, yang juga didiagnosis dengan ALS pada Maret 2013. Pat
mengetahuinya dari akun facebook Jeanette.
Tantangan itu pun
menyebar dari satu mulut ke mulut lainnya, dan mantan pemain bisbol Boston
College, Pete Frates, yang juga menderita ALS mulai mem-posting tantangan
tersebut di Twitter. Bisa ditebak, Ice Bucket Challenge langsung menjadi viral
di dunia maya.
Itu dia penjelasan singkat mengenai Ice Bucket Challenging,
nah sekarang apa itu penyakit ALS (Amyotrophic
Lateral Sclerosis)?
ALS
(Amyotrophic Lateral Sclerosis)
ALS
(Amyotrophic Lateral Sclerosis)
berasal dari bahasa Yunani yang artinya A (tidak ada), Myo
(otot), Trophic (asupan) yang berarti
tidak adanya asupan atau impuls listrik ke otot. Lateral menunjukkan daerah di sumsum tulang belakang manusia yang
memberikan rangsangan kepada otot-otot penggerak. Sclerosis yang berarti jika sel saraf yang memberikan rangsangan
otot gerak ini mati, maka akan terjadi pengerasan dan jaringan parut. Jadi
secara ringkas, ALS adalah penyakit dimana sel saraf yang berfungsi memberi
rangsangan kepada otot mati sehingga sinyal dari otak tidak berjalan sampai ke
otot.
Gejala
ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)
Gejala ALS biasanya belum
tampak hingga penderita berusia 50 tahun, namun bisa muncul perlahan di usia
muda. Pada awalnya pasien ALS dapat menunjukkan gejala kelemahan otot yang
ringan. Jika mengenai tungkai maka ketika berjalan tiba-tiba mengalami kram di
kaki, atau mendadak jatuh saat berdiri. Bila menyerang lengan maka pasien
mengalamii kesulitan saat memakai baju, tangan susah masuk ke baju. Kesulitan
menulis atau saat akan menyalakan kendaraan (motor, mobil) tidak mampu memutar
kunci kontak. Seperempat pasien (25%) mengalami kesulitan dalam
berbicara. Bicaranya tidak jelas, terbata-bata, atau gagap. Kadang seperti
bindeng. Sebagian mengalami gangguan gerakan lidah, sehingga seperti celad atau
Pelo. Ada yang mengalami gangguan pernafasan atau sesak karena otot dinding
dada terganggu.
Penyebab
ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)
Saat ini penyebab ALS
belum diketahui. Faktor genetik dan lingkungan dapat turut berperan sebagai
faktor risiko. Faktor risiko lainnya adalah usia, yang terkait dengan proses
penuaan. Meskipun dapat menjangkiti usia muda, kebanyakan penderita ALS berusia
tua.
Diagnosa
ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)
Tidak ada pemeriksaan khusus yang bisa mendiagnosis
secara pasti ALS. Diagnosis ALS berdasarkan gejala dan tanda klinis yang
dikeluhkan pasien dan dengan pemeriksaan dokter sambil menyingkirkan
kemungkinan diagnosis lain. Pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan untuk
diperiksa pada dugaan ALS adalah pemeriksaan darah lengkap, pungsi lumbal
(pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang), neurofisiologi (EMG, kecepatan
konduksi saraf), dan radiologi (MRI/CT Scan).
Pemeriksaan penunjang yang cukup membantu diagnosis
adalah EMG (Elektro Miografi). Sambil mengevaluasi kelemahan otot, otot yang
mengalami atropi (pengecilan), reflex otot yang berlebihan, serta spastisitas
(kekakuan) otot. Pemeriksaan EMG dapat mendeteksi aktifitas listrik otot.
Sedangkan pemeriksaan MRI dapat membantu menyingkirkan
kemungkinan diagnosis lain yang mirip ALS seperti: tumor medulla spinalis,
Multipel sclerosis, Herniasi saraf di daerah leher, Syringomyelia atau
Spondilosis servikal. Tetap diperlukan pemeriksaan tes darah dan urin sebagai
pemeriksaan rutin. Sebab ALS gejalanya mirip penyakit infeksi seperti: HIV,
penyakit Lyme, Sifilis, dan Ensefalitis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar