Pengukuran vs indeks vs
indikator
Pengukuran (raw measurements)
Berat badan, tinggi
badan, RBC
Indeks (tunggal:indek)
- Kombinasi ≥ 2 pengukuran
- Dapat diinterpretasikan
(BB/TB=kurus; TB/U=pendek; BMI BB/TB2=over atau under weight)
Indikator, digunakan pada level
populasi (dan lebih sering dibandingkan dengan trigger level)
- Membandingkan indeks
dengan cutoffs yang tergantung tujuan studi
- % serum retinol < 0,70
μmol/L (CO) ≥ 15% (TL) à resiko tinggi defesiensi vitamin A
- % HAZ score < -2 SD
pada anak (CO) ≥ 20% (TL) à resiko tinggi pendek
Faktor yang mempengaruhi
desain sistem penilaian status gizi
1. Tujuan studi
a. Mengetahui status gizi
populasi atau subpopulasi keseluruhan
b. Identifikasi area,
populasi atau subpopulasi yang beresiko malnutrisi kronis
c. Identifikasi penyebab
malnutrisi pada populasi atau subpopulasi
d. Merancang intervensi yang
tepat untuk populasi atau subpopulasi beresiko
e. Memonitor kemajuan
perubahan status gizi termasuk intervensi program
f. Evaluasi efikasi
efektivitas intervensi
g. Melihat rekam jejak
progress dalam jangka panjang
2. Sample protocol
a. Non probability sampling
- Concecutive sampling
- Convenience sampling
- Quota sampling
b. Probability sampling
- Simple random sampling
- Stratified random sampling
- Multistage random sampling
3. Ukuran sampel
Untuk menghitung besarnya
sampel, membutuhkab informasi:
- Tingkat kemaknaan
(signifikansi) secara statistik
- Besarnya kesalahan yang
dapat ditoleransi
- Besarnya efek investigasi
4. Karakteristik indikator
a. Validitas
- Deskripsi adekuasi dimana
pengukuran, indeks/indikator merefleksikan apa yang diukur. Contoh: jika
dibutuhkan informasi status gizi jangka panjang individu àpengukuran diet harus memberikan refleksi yang valid tentang “usual intake” dibanding “actual intake” 1 hari.
- Parameter biokimia à valid
mengukur total konten nutrien dan tidak merefleksikan intake makanan aktual. Contoh:
pengukuran vitamin B6 dari urin tidak tepat untuk mengukur status vitamin B6
jangka panjang à koefisien aspartate aminotranferase
(AsAT).
- Validitas internal:
mengindikasikan bahwa hasil valid hanya untuk kelompok tertentu/individu dalam
studi. Validitas eksternal: hasil valid ketika diaplikasikan tidak hanya pada
individu dalam studi tetapi populasi yang lebih luas.
- Desain sistem penilaian
status gizi harus mempertimbangkan validitas internal dan eksternal pengukuran,
indeks, dan indikator
b. Reproducibilitas
- Derajat dimana
pengulangan pengukuran variabel yang sama memberikan nilai yang sama.
- Fungsi dari random
measurement errors.
- Strategi untuk
meningkatkan presisi sitem penilaian status gizi:
1. SOP spesifik dalam
melakukan pengukuran à memastikan semua teknik
terstandarisasi
2. Latih semua pewawancara
untuk menggunakan teknik terstandar secara konsisten
3. Selektif memilih dan
standarisasi instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data
4. Standarisasi kuesioner
dan panduan wawancara
5. Mengulang pengukuran
c. Akurasi
- Derajat dimana pengukuran
hampir sama/nilainya dekat dengan nilai yang sebenarnya
- Fungsi dari systematic
measurement error/bias
5. Sensitifitas dan
spesifitas
Sensitifitas adalah
kemampuan suatu tes/indek untuk mengidentifikasi kelompok malnutrisi (TP).
Spesifitas adalah
kemampuan tes/indek untuk mengidentifikasi kelompok yang well nourished
6. Predictive value
7. Confounding
- Tipe bias dan mengganggu
validitas studi
- Variabel yang
terdistribusi berbeda pada kelompok studi dan kontrol yang mengganggu outcome.
- Beberapa strategi untuk
mengontrol confounder
a. Fase desaien à randomisasi,
stratifikasi, restriksi, dan matching
b. Fase analisis à analisis multivariat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar