Senin, 04 Agustus 2014

Konsep Dasar Penilaian Status Gizi

Pengukuran vs indeks vs indikator
Pengukuran (raw measurements)
Berat badan, tinggi badan, RBC
Indeks (tunggal:indek)
-       Kombinasi ≥ 2 pengukuran
-   Dapat diinterpretasikan (BB/TB=kurus; TB/U=pendek; BMI BB/TB2=over atau under weight)
Indikator, digunakan pada level populasi (dan lebih sering dibandingkan dengan trigger level)
-       Membandingkan indeks dengan cutoffs yang tergantung tujuan studi
-       % serum retinol < 0,70 μmol/L (CO) ≥ 15% (TL) à resiko tinggi defesiensi vitamin A
-       % HAZ score < -2 SD pada anak (CO) ≥ 20% (TL) à resiko tinggi pendek

Faktor yang mempengaruhi desain sistem penilaian status gizi
1.  Tujuan studi
a.   Mengetahui status gizi populasi atau subpopulasi keseluruhan
b.  Identifikasi area, populasi atau subpopulasi yang beresiko malnutrisi kronis
c.   Identifikasi penyebab malnutrisi pada populasi atau subpopulasi
d.  Merancang intervensi yang tepat untuk populasi atau subpopulasi beresiko
e.   Memonitor kemajuan perubahan status gizi termasuk intervensi program
f.    Evaluasi efikasi efektivitas intervensi
g.   Melihat rekam jejak progress dalam jangka panjang
2.  Sample protocol
a.   Non probability sampling
-       Concecutive sampling
-       Convenience sampling
-       Quota sampling
b.  Probability sampling
-       Simple random sampling
-       Stratified random sampling
-       Multistage random sampling
3.  Ukuran sampel
Untuk menghitung besarnya sampel, membutuhkab informasi:
-       Tingkat kemaknaan (signifikansi) secara statistik
-       Besarnya kesalahan yang dapat ditoleransi
-       Besarnya efek investigasi
4.  Karakteristik indikator
a.   Validitas
-       Deskripsi adekuasi dimana pengukuran, indeks/indikator merefleksikan apa yang diukur. Contoh: jika dibutuhkan informasi status gizi jangka panjang individu àpengukuran diet harus memberikan refleksi yang valid tentang “usual intake” dibanding “actual intake” 1 hari.
- Parameter biokimia à valid mengukur total konten nutrien dan tidak merefleksikan intake makanan aktual. Contoh: pengukuran vitamin B6 dari urin tidak tepat untuk mengukur status vitamin B6 jangka panjang à koefisien aspartate aminotranferase (AsAT).
-       Validitas internal: mengindikasikan bahwa hasil valid hanya untuk kelompok tertentu/individu dalam studi. Validitas eksternal: hasil valid ketika diaplikasikan tidak hanya pada individu dalam studi tetapi populasi yang lebih luas.
-       Desain sistem penilaian status gizi harus mempertimbangkan validitas internal dan eksternal pengukuran, indeks, dan indikator
b.  Reproducibilitas
-       Derajat dimana pengulangan pengukuran variabel yang sama memberikan nilai yang sama.
-       Fungsi dari random measurement errors.
-       Strategi untuk meningkatkan presisi sitem penilaian status gizi:
1.  SOP spesifik dalam melakukan pengukuran à memastikan semua teknik terstandarisasi
2.  Latih semua pewawancara untuk menggunakan teknik terstandar secara konsisten
3. Selektif memilih dan standarisasi instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data
4.  Standarisasi kuesioner dan panduan wawancara
5.  Mengulang pengukuran
c.   Akurasi
-  Derajat dimana pengukuran hampir sama/nilainya dekat dengan nilai yang sebenarnya
-       Fungsi dari systematic measurement error/bias
5.  Sensitifitas dan spesifitas
Sensitifitas adalah kemampuan suatu tes/indek untuk mengidentifikasi kelompok malnutrisi (TP).
Spesifitas adalah kemampuan tes/indek untuk mengidentifikasi kelompok yang well nourished
6.  Predictive value
7.  Confounding
-       Tipe bias dan mengganggu validitas studi
-  Variabel yang terdistribusi berbeda pada kelompok studi dan kontrol yang mengganggu outcome.
-       Beberapa strategi untuk mengontrol confounder
a.   Fase desaien à randomisasi, stratifikasi, restriksi, dan matching

b.  Fase analisis à analisis multivariat

Tidak ada komentar: