A. Konsep Dasar Mengingat
Tidak dapat disangkal bahwa
ingatan memegang peranan yang amat penting bagi kehidupan manusia. Tidak ada
aktivitas manusia, bahkan yang sederhana sekalipun tanpa ingatan. Ingatan
adalah kemampuan individu untuk menerima atau mencamkan, menyimpan, dan
mereproduksi kembali informasi atau kesan-kesan. Dengan demikian, bagaimana
kemampuan ingatan seseorang berkaitan dengan bagaimana fungsi kemampuan
individu itu untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksi kesan-kesan tersebut.
Suryabrata (1987) menyatakan
bahwa ingatan yang baik mempunyai sifat-sifat:
-
Cepat atau mudah mencamkan
-
Setia, teguh, dan luas dalam menyimpan
-
Siap atau sedia dalam memproduksi
kesan-kesan
Kemampuan individu untuk
menyimpan informasi dapat bersifat permanen atau temporer, tergantung
kebutuhan. Ada kalanya penyimpanan tersebut hanya berlangsung dalam beberapa
detik atau bahkan kurang, atau dapat pula disimpan sepanjang hidupnya.
Pengertian ingatan di
atas sekaligus menunjukkan bagaimana proses ingatan itu berlangsung. Pada
umumnya para ahli membagi proses ingatan dalam tiga tahapan, yaitu:
1.
Tahap pemasukan pesan/informasi ke dalam
ingatan (istilah lainnya adalah mencamkan, encoding, reseptif,
registratif atau acquisition).
2.
Tahap penyimpanan informasi (istilah
lainnya adalah storage, preservasi, retension atau menahan)
3.
Tahap pengingatan kembali atau reproduksi
kesan-kesan (istilah lainnya adalah retrieving, recall atau
reproduksi)
Dilihat dari tingkatan (ada juga yang menyebutnya jenis ingatannya) pada umumnya
dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.
Ingatan jangka pendek
Ingatan jangka pendek
atau ingatan primer (immediate memory atau short term
memory) adaalh salah satu jenis ingatan yang dicirikan dengan kemampuan
individu untuk menyimpan informasi dalam waktu beberapa detik. Jadi, ingatan
jangka pendek menunjukkan pada kempampuan individu untuk mengingat hal-hal yang
telah dihadirkan atau ditunjukkan beberapa menit sebelumnya.
Bila dilihat dari
tahapannya, ingatan jangka pendek memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Tahapan pemasukan pesan
Pada tahap ini pemasukan
erat kaitannya denganpencaman dan perhatian. Ingatan hanya berisi hal-hal yang
dipilih untuk diperhatikan atau dicamkan. Sebagian besar dari apa yang diterima
tidak pernah memasuki ingatan jangka panjang. Kesan atau informasi yang
diperhatikan masuk ke dalam ingatan berbentuk kode tertentu (visual atau
akustik). Pada umumnya orang lebih menyukai kode akustik, dikarenakan lebih
mudah dipertahankan. Namun untuk materi ingatan non verbal, kode visual menjadi
sangat penting.
b.
Tahapan penyimpanan
Informasi yang tersimpan
dalam ingatan jangka pendek memiliki sifat mudah hilang dan mempunyai kapasitas
yang terbatas. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas ingatan
jangka pendek pada orang dewasa normal memiliki keajegan, yaitu tujuh plus
minus dua. Artinya, seseorang paling banyak hanya mampu mengingat kembali hanya
9 buah (chunk) dan paling sedikit 5 buah (chunk). Kapasitas ini
biasa disebut dengan rentang ingatan. Chunk adalah bagian
terkecil (unit terkecil) dari materi ingatan yang berdiri sendiri. Dalam
penyimpanan ingatan ini dikenal prinsip penggantian dan pengelompokkam. Prinsip
penggantian menjelaskan bagaimana sebuah butir hilang dari ingatan jangka
pendek. Prinsip ini erat kaitannya dengan prinsip pengulangan karena dapat
menghindai penggantian butir yang sudah diterima dengan butir yang baru.
Sedangkan pengelompokkan (chunking) artinya pengelompokkan menjadi
unit-unit. Berfungsinya prinsip ini berkaitan dengan ingatan jangka panjang.
Karena itu, deretan angka, huruf, atau kata yang panjang tidak selalu berarti
lebih sulit diingat daripada yang pendek atau singkat.
c.
Tahapan pengingatan kembali
Pada tahap ini terjadi proses penggalian
atau pencarian terhadap materi ingatan. Ingatan jangka pendek memiliki
kapasitas yang terbatas, sehingga lupa umumnya terjadi karena kelebihan
kapasitas penyimpanan (prinsip penggantian), walau hal ini bukan satu-satunya.
2.
Ingatan jangka panjang
Ingatan jangka panjang
(ingatan sekunder atau long term memory) adalah kemampuan seseorang
untuk menyimpan informasi atau kesan-kesan dalam ukuran menit atau lebih.
Perbedaan antara ingatan jangka pendek dengan jangka panjang adalah:
a.
Pemasukan pesan atau informasi ingatan
jangka panjang cenderung pada kode visual atau akustik.
b.
Ingatan jangka pendek memiliki kapasitas
yang terbatas, ingatan jangka panjang tak terbatas.
c.
Dalam ingatan jangka pendek, terjadi lupa
dikarenakan informasinya melebihi kapasitas yang ada. Sedangkan dalam ingatan
jangka panjang, terjadi lupa karena gagalnya dalam pengingatan kembali.
d.
Ingatan jangka pendek berhubungan dengan
bagian yang masih aktif dan mudah dibuyarkan oleh kegiatan-kegiatan lain, serta
prosesnya otomatis. Sedangkan ingatan jangka panjang berhubungan dengan bagian
yang pasif, tidak mudah dibuyarkan, dan prosesnya tidak otomatis tetapi perlu
kodifikasi dan cara-cara khusus.
Berdasarkan uraian di
atas, disimpulkan bahwa semua ingatan yang masuk dalam ingatan jangka panjang
terlebih dahulu melalui ingatan jangka pendek, namun tidak semua ingatan yang
memasuki ingatan jangka pendek dapat memasuki ingatan jangka panjang. Infromasi
yang memasuki ingatan jangka panjang hanyalah ingatan yang dicatat dengan baik,
melalui pengulangan atau latihan.
Berdasarkan
motalitasnya, ingatan dapat dibedakan sesuai dengan modalitas ingatannya.
Misalnya, kesan yang masuk melalui modalitas penglihatan maka akan tersimpan
dalam ingatan visual, sedangkan yang masuk melalui modalitas pendengaran akan
disimpan dalam bentuk ingatan akustik. Pada umumnya kedua modalitas tersebut
memegang peranan yang dominan.
Berdasarkan tipenya,
kemampuan ingatan seseorang juga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu mengingat
kembali atau recall (jenis ingatan yang perolehannya dilakukan
tanpa adanya objek atau materi sebagai tumpuan ingatan) dan mengenal kembali
atau recognition (pengingatan kembali dilakukan dengan
menghadirkan kembali objek atau materi sebagai tumpuan ingatan). Tipe terakhir
umumnya lebih mudah dilakukan oleh hampir semua orang.
Kemampuan ingatan di
samping dipengaruhi oleh ketiga aspek dalam penerimaan, penyimpanan, dan
reproduksi secara umum juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:
a.
Sistem penginderaan individu
b.
Sistem persyarafan individu
c.
Perhatian terhadap informasi yang
disampaikan
d.
Kebermaknaan materi yang dipelajari
e.
Metode dalam mempelajari sesuatu
f.
Kondisi lingkungan belajar
g.
Faktor-faktor pribadi, misal: kondisi,
emosi, kesehatan, dan minat
Membahas tentang ingatan tidak dapat dipisahkan dari lupa. Hal yang tidak
diingat adalah hal yang dilupakan. Lupa adalah kondisi dimana individu tidak
mampu mereproduksi kembali tanggapan-tanggapan atau informasi/kesan-kesan yang
telah diperolehnya, mungkin separuhnya atau sebagian, mungkin sementara atau
selamanya.
Orang menjadi lupa dapat dikarenakan berbagai faktor, baik faktor di dalam
diri maupun di luar dirinya, antara lain:
a.
Mengalami gangguan di antara
tanggapan-tanggapan yang ada (teori interfensi)
b.
Mengalami penekanan tanggapan yang telah
ada, baik disengaja atau tidak (teori represi)
c.
Karena perubahan situasi lingkungan,
misalnya bangunan lama telah dibongkar, atau telah dibangun kembali
d.
Karena perubahan sikap dan minat
e.
Karena tidak pernah dipelajari secara
sungguh-sungguh
f.
Karena materi ingatan tersebut tak pernah
digunakan
g.
Karena perubahan dalam sistem syaraf,
misal: kecelakaan
h.
Karena sebab-sebab psikologis, misal:
jenuh, ada konflik, dan pernah frustasi
B. Jenis-jenis Gangguan Mengingat
Jenis-jenis gangguan mungkin
dapat berupa ingatan yang berlebih-lebihan, ingatan yang menurun/mengurang,
atau ingatan menghilang (distorsi). Secara rinci gangguan-gangguan ingatan
tersebut meliputi:
1.
Hypermnesia
Yaitu ingatan yang
berlebih-lebihan, sehingga seseorang dapat menggambarkan kejadian-kejadian
(informasi atau kesan yang diperolehnya) secara mendetail. Kadang-kadang
terjadi pada periode-periode tertentu atau peristiwa-peristiwa tertentu yang
berhubungan dengan perasaan atau emosinya.
2.
Amnesia
Yaitu keadaan seseorang
yang hilang ingatan, mungkin sebagian atau seluruhnya, untuk sementara waktu
atau selama-lamanya, mungkin karena sebab-sebab organis atau psikologis. Pada
amnesia organis, sebabnya karena kerusakan dalam pencaman dan penyimpanan.
Sedang pada amnesia psikologis sebabnya karena pemanggilan kembali mengalami
kesulitan/halangan. Dalam kondisi akut, orang yang mengalami ini dapat
kehilangan identitas dirinya. Mengkin terhadap peristiwa-peristiwa yang baru
saja terjadi (beberapa jam atau hari) atau yang sudah lama. Mungkin bersifat retrograde (meliputi
pengalaman sebelum dan sesudah peristiwa yang menyebabkan amnesia terjadi) atau
antegrade (meliputi pengalaman sesudah gangguan yang menyebabkan amnesia itu
terjadi).
3.
Paramnesia
Yaitu ingatan yang
keliru (ilusi ingatan) karena distrosi pemanggilan kembali (recall),
meliputi:
a.
Deja vu, seperti pernah melihat
sesuatu padahal belum (merasa ingat sesuatu, padahal baru pertama kali
bertemu).
b.
Jamais vu, seperti: belum pernah melihat sesuatu, padahal sudah pernah. Penyangkalan
ingatan.
c.
Fausse reconnaissance, pengenalan kembali yang keliru, merasa pasti bahwa pengenalannya itu
benar, tetapi sesungguhnya tidak benar sama sekali.
d.
Konfabulasi, secara tidak sadar mengisi
lubang-lubang dalam ingatannya dengan cerita yang tidak sesuai dengan kenyataan,
tetapi penderita percaya sekali akan kebenarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar