Senin, 04 Agustus 2014

Gangguan Mengingat (Memories)

A. Konsep Dasar Mengingat
        Tidak dapat disangkal bahwa ingatan memegang peranan yang amat penting bagi kehidupan manusia. Tidak ada aktivitas manusia, bahkan yang sederhana sekalipun tanpa ingatan. Ingatan adalah kemampuan individu untuk menerima atau mencamkan, menyimpan, dan mereproduksi kembali informasi atau kesan-kesan. Dengan demikian, bagaimana kemampuan ingatan seseorang berkaitan dengan bagaimana fungsi kemampuan individu itu untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksi kesan-kesan tersebut.
        Suryabrata (1987) menyatakan bahwa ingatan yang baik mempunyai sifat-sifat:
-       Cepat atau mudah mencamkan
-       Setia, teguh, dan luas dalam menyimpan
-       Siap atau sedia dalam memproduksi kesan-kesan

Kemampuan individu untuk menyimpan informasi dapat bersifat permanen atau temporer, tergantung kebutuhan. Ada kalanya penyimpanan tersebut hanya berlangsung dalam beberapa detik atau bahkan kurang, atau dapat pula disimpan sepanjang hidupnya.
Pengertian ingatan di atas sekaligus menunjukkan bagaimana proses ingatan itu berlangsung. Pada umumnya para ahli membagi proses ingatan dalam tiga tahapan, yaitu:
1.  Tahap pemasukan pesan/informasi ke dalam ingatan (istilah lainnya adalah mencamkan, encoding, reseptif, registratif atau acquisition).
2.  Tahap penyimpanan informasi (istilah lainnya adalah storage, preservasi, retension atau menahan)
3.  Tahap pengingatan kembali atau reproduksi kesan-kesan (istilah lainnya adalah retrieving, recall atau reproduksi)

Dilihat dari tingkatan (ada juga yang menyebutnya jenis ingatannya) pada umumnya dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.  Ingatan jangka pendek
Ingatan jangka pendek atau ingatan primer (immediate memory atau short term memory) adaalh salah satu jenis ingatan yang dicirikan dengan kemampuan individu untuk menyimpan informasi dalam waktu beberapa detik. Jadi, ingatan jangka pendek menunjukkan pada kempampuan individu untuk mengingat hal-hal yang telah dihadirkan atau ditunjukkan beberapa menit sebelumnya.
Bila dilihat dari tahapannya, ingatan jangka pendek memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.   Tahapan pemasukan pesan
Pada tahap ini pemasukan erat kaitannya denganpencaman dan perhatian. Ingatan hanya berisi hal-hal yang dipilih untuk diperhatikan atau dicamkan. Sebagian besar dari apa yang diterima tidak pernah memasuki ingatan jangka panjang. Kesan atau informasi yang diperhatikan masuk ke dalam ingatan berbentuk kode tertentu (visual atau akustik). Pada umumnya orang lebih menyukai kode akustik, dikarenakan lebih mudah dipertahankan. Namun untuk materi ingatan non verbal, kode visual menjadi sangat penting.
b.  Tahapan penyimpanan
Informasi yang tersimpan dalam ingatan jangka pendek memiliki sifat mudah hilang dan mempunyai kapasitas yang terbatas. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas ingatan jangka pendek pada orang dewasa normal memiliki keajegan, yaitu tujuh plus minus dua. Artinya, seseorang paling banyak hanya mampu mengingat kembali hanya 9 buah (chunk) dan paling sedikit 5 buah (chunk). Kapasitas ini biasa disebut dengan rentang ingatan. Chunk adalah bagian terkecil  (unit terkecil) dari materi ingatan yang berdiri sendiri. Dalam penyimpanan ingatan ini dikenal prinsip penggantian dan pengelompokkam. Prinsip penggantian menjelaskan bagaimana sebuah butir hilang dari ingatan jangka pendek. Prinsip ini erat kaitannya dengan prinsip pengulangan karena dapat menghindai penggantian butir yang sudah diterima dengan butir yang baru. Sedangkan pengelompokkan (chunking) artinya pengelompokkan menjadi unit-unit. Berfungsinya prinsip ini berkaitan dengan ingatan jangka panjang. Karena itu, deretan angka, huruf, atau kata yang panjang tidak selalu berarti lebih sulit diingat daripada yang pendek atau singkat.
c.   Tahapan pengingatan kembali
Pada tahap ini terjadi proses penggalian atau pencarian terhadap materi ingatan. Ingatan jangka pendek memiliki kapasitas yang terbatas, sehingga lupa umumnya terjadi karena kelebihan kapasitas penyimpanan (prinsip penggantian), walau hal ini bukan satu-satunya.

2.  Ingatan jangka panjang
Ingatan jangka panjang (ingatan sekunder atau long term memory) adalah kemampuan seseorang untuk menyimpan informasi atau kesan-kesan dalam ukuran menit atau lebih. Perbedaan antara ingatan jangka pendek dengan jangka panjang adalah:
a.   Pemasukan pesan atau informasi ingatan jangka panjang cenderung pada kode visual atau akustik.
b.  Ingatan jangka pendek memiliki kapasitas yang terbatas, ingatan jangka panjang tak terbatas.
c.   Dalam ingatan jangka pendek, terjadi lupa dikarenakan informasinya melebihi kapasitas yang ada. Sedangkan dalam ingatan jangka panjang, terjadi lupa karena gagalnya dalam pengingatan kembali.
d.  Ingatan jangka pendek berhubungan dengan bagian yang masih aktif dan mudah dibuyarkan oleh kegiatan-kegiatan lain, serta prosesnya otomatis. Sedangkan ingatan jangka panjang berhubungan dengan bagian yang pasif, tidak mudah dibuyarkan, dan prosesnya tidak otomatis tetapi perlu kodifikasi dan cara-cara khusus.

Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa semua ingatan yang masuk dalam ingatan jangka panjang terlebih dahulu melalui ingatan jangka pendek, namun tidak semua ingatan yang memasuki ingatan jangka pendek dapat memasuki ingatan jangka panjang. Infromasi yang memasuki ingatan jangka panjang hanyalah ingatan yang dicatat dengan baik, melalui pengulangan atau latihan.
Berdasarkan motalitasnya, ingatan dapat dibedakan sesuai dengan modalitas ingatannya. Misalnya, kesan yang masuk melalui modalitas penglihatan maka akan tersimpan dalam ingatan visual, sedangkan yang masuk melalui modalitas pendengaran akan disimpan dalam bentuk ingatan akustik. Pada umumnya kedua modalitas tersebut memegang peranan yang dominan.
Berdasarkan tipenya, kemampuan ingatan seseorang juga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu mengingat kembali atau recall (jenis ingatan yang perolehannya dilakukan tanpa adanya objek atau materi sebagai tumpuan ingatan) dan mengenal kembali atau recognition (pengingatan kembali dilakukan dengan menghadirkan kembali objek atau materi sebagai tumpuan ingatan). Tipe terakhir umumnya lebih mudah dilakukan oleh hampir semua orang.
Kemampuan ingatan di samping dipengaruhi oleh ketiga aspek dalam penerimaan, penyimpanan, dan reproduksi secara umum juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:
a.   Sistem penginderaan individu
b.  Sistem persyarafan individu
c.   Perhatian terhadap informasi yang disampaikan
d.  Kebermaknaan materi yang dipelajari
e.   Metode dalam mempelajari sesuatu
f.    Kondisi lingkungan belajar
g.   Faktor-faktor pribadi, misal: kondisi, emosi, kesehatan, dan minat

Membahas tentang ingatan tidak dapat dipisahkan dari lupa. Hal yang tidak diingat adalah hal yang dilupakan. Lupa adalah kondisi dimana individu tidak mampu mereproduksi kembali tanggapan-tanggapan atau informasi/kesan-kesan yang telah diperolehnya, mungkin separuhnya atau sebagian, mungkin sementara atau selamanya.
Orang menjadi lupa dapat dikarenakan berbagai faktor, baik faktor di dalam diri maupun di luar dirinya, antara lain:
a.   Mengalami gangguan di antara tanggapan-tanggapan yang ada (teori interfensi)
b.  Mengalami penekanan tanggapan yang telah ada, baik disengaja atau tidak (teori represi)
c.   Karena perubahan situasi lingkungan, misalnya bangunan lama telah dibongkar, atau telah dibangun kembali
d.  Karena perubahan sikap dan minat
e.   Karena tidak pernah dipelajari secara sungguh-sungguh
f.    Karena materi ingatan tersebut tak pernah digunakan
g.   Karena perubahan dalam sistem syaraf, misal: kecelakaan
h.  Karena sebab-sebab psikologis, misal: jenuh, ada konflik, dan pernah frustasi

B. Jenis-jenis Gangguan Mengingat
        Jenis-jenis gangguan mungkin dapat berupa ingatan yang berlebih-lebihan, ingatan yang menurun/mengurang, atau ingatan menghilang (distorsi). Secara rinci gangguan-gangguan ingatan tersebut meliputi:
1.  Hypermnesia
Yaitu ingatan yang berlebih-lebihan, sehingga seseorang dapat menggambarkan kejadian-kejadian (informasi atau kesan yang diperolehnya) secara mendetail. Kadang-kadang terjadi pada periode-periode tertentu atau peristiwa-peristiwa tertentu yang berhubungan dengan perasaan atau emosinya.
2.  Amnesia
Yaitu keadaan seseorang yang hilang ingatan, mungkin sebagian atau seluruhnya, untuk sementara waktu atau selama-lamanya, mungkin karena sebab-sebab organis atau psikologis. Pada amnesia organis, sebabnya karena kerusakan dalam pencaman dan penyimpanan. Sedang pada amnesia psikologis sebabnya karena pemanggilan kembali mengalami kesulitan/halangan. Dalam kondisi akut, orang yang mengalami ini dapat kehilangan identitas dirinya. Mengkin terhadap peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi (beberapa jam atau hari) atau yang sudah lama. Mungkin bersifat retrograde (meliputi pengalaman sebelum dan sesudah peristiwa yang menyebabkan amnesia terjadi) atau antegrade (meliputi pengalaman sesudah gangguan yang menyebabkan amnesia itu terjadi).
3.  Paramnesia
Yaitu ingatan yang keliru (ilusi ingatan) karena distrosi pemanggilan kembali (recall), meliputi:
a.   Deja vu, seperti pernah melihat sesuatu padahal belum (merasa ingat sesuatu, padahal baru pertama kali bertemu).
b.  Jamais vu, seperti: belum pernah melihat sesuatu, padahal sudah pernah. Penyangkalan ingatan.
c.   Fausse reconnaissance, pengenalan kembali yang keliru, merasa pasti bahwa pengenalannya itu benar, tetapi sesungguhnya tidak benar sama sekali.

d.  Konfabulasi, secara tidak sadar mengisi lubang-lubang dalam ingatannya dengan cerita yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi penderita percaya sekali akan kebenarannya.

Tidak ada komentar: