Sepanjang
masa perkembangan individu dari lahir hingga dewasa, kebutuhan-kebutuhan
seseorang tidak selalu dapat terpenuhi dengan lancar. Sehingga sering kali
terjadi hambatan dalam pemuasan suatu kebutuhan, motif, dan keinginan. Keadaan
terhambat dalam mencapai suatu tujuan dinamakan frustasi. Keadaan frustasi yang
berlangsung terlalu lama dan tidak dapat diatasi oleh seseorang akan
menimbulkan stress.
Stress
adalah suatu keadaan di mana beban yang dirasakan seseorang tidak sepadan
dengan kemampuan untuk mengatasi beban itu. Sumber frustasi: hambatan dari
luar/eksternal (contoh: mau jemur baju, tapi mendung hitam menggantung),
hambatan dari luar/internal (contoh: mau tampil ke depan, tapi tidak percaya
diri).
Stress
terjadi karena ada tekanan hidup dan adanya konflik tujuan. Konflik terjadi
apabila suatu objek tujuan mempunyai nilai ganda bagi seseorang. Ada tiga macam
konflik, antara lain:
1. Konflik mendekat-mendekat
(approach-approach)
Dimana seseorang harus
memilih antara dua tujuan yang sama-sama menarik.
2. Konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance)
Dimana seseorang harus
memilih antara dua hal yang sama-sama sulit bahkan buruk.
3. Konflik menjauh-mendekat
(avoidance-approach)
Dimana seseorang harus
memutuskan apakah dia akan bergerak atau tidak menuju pada tujuan yang
menyenangkan, tetapi untuk mencapainya memiliki konsekuensi yang menyakitkan.
Contoh: mencari kemegahan sebagai pahlawan di medan perang dengan
mempertaruhkan nyawanya.
Supaya
tetap bisa dan mampu bertahan dalam kedinamisan hidup, perlu adanya kemampuan
untuk penyesuaian diri terhadap kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan yang
membutuhkan penyelesaian masalah. Kegagalan penyesuaian diri akan tampak
sebagai bentuk mekanisme pertahanan. Ada tujuh belas macam mekanisme
pertahanan, antara lain:
1. Represi (Repression)
Mekanisme dimana
seseorang secara tidak sadar seseorang menekan pikiran-pikiran yang tidak
sesuai atau yang menyedihkan keluar dari alam sadar ke alam tidak sadar.
Contoh: seorang pemuda melihat kematian temannya waktu kecelakaan, kemudian ia
lupa tentang kejadian ini (lupa ini disebut amnesia psikogenik, bila lupa
karena gegar otak maka disebut amnesia organic).
2. Kompensasi (Compensation)
Menutupi kelemahan dengan
menonjolkan sifat yang baik atau karena frustasi dalam suatu bidang, lalu
dicari kepuasan secara berlebihan dalam bidang lain (kompensasi berlebihan).
Kompensasi dilakukan terhadap perasaan kurang mampu (inferior). Contoh: anak
yang tidak pandai di sekolah, menjadi anak jagoan atau ditakuti oleh
teman-temannya.
3. Konversi (Convertion)
Proses mekanisme dimana
konflik emosional memperoleh ekspresi melalui manifestasi motorik, sensoris,
somatic. Contoh: saat stress menjadi mudah marah, teriak-teriak, kejang, dll).
4. Penyangkalan (Denial)
Proses mekanisme yang
menyangkal realitas yang menimbulkan rasa takut, sakit, malu, atau cemas.
Contoh: seorang ibu yang tidak mau menerima bahwa anaknya terbelakang mental
sehingga anak tersebut dititipkan pada saudaranya yang jauh.
5. Memindahkan (Displacement)
Proses mekanisme dimana
luapan emosi terhadap seseorang atau objek dialihkan kepada seseorang atau
objek yang lain. Contoh: seorang anak yang dimarahi ibunya kemudian dia memukul
adiknya atau menendang kucingnya.
6. Disosiasi (Dissociation)
Beban emosi dalam suatu
keadaan yang menyakitkan diputuskan atau diubah. Contoh: rasa sedih karena
kematian seorang kekasig dikurangi dengan mengatakan “sudah nasibnya” atau
“sekarang ia sudah tidak menderita lagi.”
7. Fantasi/Khayalan (Fantacy/Image)
Tindakan berkhayal untuk
memberikan pelarian dari kenyataan. Contoh: seorang anak yang kurang pandai
lalu berkhayal dirinya menjadi bintang pelajar.
8. Identifikasi (Identification)
Menambah rasa harga diri
dengan menyamakan harga dirinya seperti seseorang atau suatu hal yang
dikaguminya. Contoh: seorang anak bersolek seperti ibunya.
9. Introyeksi (Intrijection)
Proses dimana seseorang
mengambil ke dalam struktur egonya sendiri, semua atau kepribadiannya sendiri.
Contoh: seorang anak yang membenci seseorang tapi ‘memasukkan’ ke dirinya
sendiri, hingga jika ia kesal ke orang tersebut ia memukul dirinya sendiri.
10. Negativisme (Negativism)
Proses perlawanan aktif
atau pasif terhadap permintaan yang ditujukan kepada seseorang. Aktif yaitu
kalau seseorang berbuat kebaikan dari apa yang diminta darinya. Pasif yaitu
menghindar dari apa yang diharapkan padanya. Contoh: seorang anak yang
disekolahkan tidak sesuai minatnya maka ia akan sering bolos sehingga
prestasinya menjadi kurang.
11. Proyeksi (Projection)
Menyalahkan orang lain
mengenai kesulitannya sendiri atau melemparkan kepada orang lain mengenai
keinginannya sendiri yang tidak baik. Contoh: seorang murid tidak lulus lalu
mengatakan gurunya tidak suka padanya.
12. Rasionalisasi (Rationalitation)
Mekanisme dimana
seseorang membenarkan tingkah lakunya yang tidak konsekuen dan tidak baik.
Contoh: seorang anak menolak diajak bermain bulu tangkis dengan alasan sakit
(padahal sebenarnya takut kalah).
13. Pembentukkan Reaksi (Reaction Formation)
Supaya tidak mengikuti
keinginannya yang jelek, maka sebagai penghalang diambil sikap atau perilaku
sebaliknya. Contoh: seorang mahasiswa yang bersikap hormat secara berlebihan
terhadap dosen yang sebenarnya tidak ia suka.
14. Regresi (Regression)
Keadaan seseorang yang
kembali ke tingkay perkembangan yang lebih awal dan kurang matang dalam
adaptasi. Bentuknya yang ekstrim adalah tingkah laku infantile. Contoh: seorang anak
yang tidak mengompol lagi, mendadak mulai berbuat demikian lagi atau mulai menghisap
jari karena setelah ia memiliki adik, ia merasa perhatian ibu terhadap dirinya
berkurang.
15. Sublimasi (Sublimation)
Dorongan-dorongan atau
kehendak-kehendak yang tidak dapat disalurkan menjadi aktivitas yang memiliki
nilai positif. Contoh: seseorang yang suka berkelahi kemudian ia menjadi atlet
petinju yang hebat.
16. Menghapuskan (Undoing)
Mekanisme dimana
seseorang secara simbolis melakukan kebalikan sesuatu yang telah dikerjakannya
atau pikiran yang tidak dapat diterima oleh egonya dan masyarakat. Contoh:
seorang suami yang berselingkuh lalu ia memberi bermacam-macam hadiah kepada
istrinya.
17. Simpatisme
Berusaha mendapatkan
simpati dengan jalan menceritakan berbagai kesukarannya. Bila ada yang
menyatakan simpati kepadanya maka rasa harga dirinya diperkuat, biarpun ada
kegagalan. Contoh: seorang siswa yang mengeluh bahwa dia tidak mempunyai
buku-buku pelajaran karena orang tuanya miskin dan tidak bisa membelikannya
lagipula ibunya sakit-sakitan.
Bagaimana penyesuaian
diri yang baik?
Menurut Shneiders, ciri orang yang
berhasil dalam menyesuaikan diri adalah orang yang mampu merespon kebutuhan dan
masalah secara matang, efesien, sehat, dan memberikan perasaan puas. Efesien
adalah hasil yang diperoleh tidka banyak emmbuang waktu, energi, atau banyak
mengalami kesalahan. Sehat adalah respon individu tersebut sesuai dengan
hakikat kemanusiaannya, hubungan dengan orang lain dan hubungannya dengan Sang
Pencipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar