Senin, 04 Agustus 2014

Frustasi, Stress, dan Penyesuaian Diri

Sepanjang masa perkembangan individu dari lahir hingga dewasa, kebutuhan-kebutuhan seseorang tidak selalu dapat terpenuhi dengan lancar. Sehingga sering kali terjadi hambatan dalam pemuasan suatu kebutuhan, motif, dan keinginan. Keadaan terhambat dalam mencapai suatu tujuan dinamakan frustasi. Keadaan frustasi yang berlangsung terlalu lama dan tidak dapat diatasi oleh seseorang akan menimbulkan stress.
Stress adalah suatu keadaan di mana beban yang dirasakan seseorang tidak sepadan dengan kemampuan untuk mengatasi beban itu. Sumber frustasi: hambatan dari luar/eksternal (contoh: mau jemur baju, tapi mendung hitam menggantung), hambatan dari luar/internal (contoh: mau tampil ke depan, tapi tidak percaya diri).
Stress terjadi karena ada tekanan hidup dan adanya konflik tujuan. Konflik terjadi apabila suatu objek tujuan mempunyai nilai ganda bagi seseorang. Ada tiga macam konflik, antara lain:
1.  Konflik mendekat-mendekat (approach-approach)
Dimana seseorang harus memilih antara dua tujuan yang sama-sama menarik.
2.  Konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance)
Dimana seseorang harus memilih antara dua hal yang sama-sama sulit bahkan buruk.
3.  Konflik menjauh-mendekat (avoidance-approach)
Dimana seseorang harus memutuskan apakah dia akan bergerak atau tidak menuju pada tujuan yang menyenangkan, tetapi untuk mencapainya memiliki konsekuensi yang menyakitkan. Contoh: mencari kemegahan sebagai pahlawan di medan perang dengan mempertaruhkan nyawanya.

Supaya tetap bisa dan mampu bertahan dalam kedinamisan hidup, perlu adanya kemampuan untuk penyesuaian diri terhadap kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan yang membutuhkan penyelesaian masalah. Kegagalan penyesuaian diri akan tampak sebagai bentuk mekanisme pertahanan. Ada tujuh belas macam mekanisme pertahanan, antara lain:
1.  Represi (Repression)
Mekanisme dimana seseorang secara tidak sadar seseorang menekan pikiran-pikiran yang tidak sesuai atau yang menyedihkan keluar dari alam sadar ke alam tidak sadar. Contoh: seorang pemuda melihat kematian temannya waktu kecelakaan, kemudian ia lupa tentang kejadian ini (lupa ini disebut amnesia psikogenik, bila lupa karena gegar otak maka disebut amnesia organic).
2.  Kompensasi (Compensation)
Menutupi kelemahan dengan menonjolkan sifat yang baik atau karena frustasi dalam suatu bidang, lalu dicari kepuasan secara berlebihan dalam bidang lain (kompensasi berlebihan). Kompensasi dilakukan terhadap perasaan kurang mampu (inferior). Contoh: anak yang tidak pandai di sekolah, menjadi anak jagoan atau ditakuti oleh teman-temannya.
3.  Konversi (Convertion)
Proses mekanisme dimana konflik emosional memperoleh ekspresi melalui manifestasi motorik, sensoris, somatic. Contoh: saat stress menjadi mudah marah, teriak-teriak, kejang, dll).
4.  Penyangkalan (Denial)
Proses mekanisme yang menyangkal realitas yang menimbulkan rasa takut, sakit, malu, atau cemas. Contoh: seorang ibu yang tidak mau menerima bahwa anaknya terbelakang mental sehingga anak tersebut dititipkan pada saudaranya yang jauh.
5.  Memindahkan (Displacement)
Proses mekanisme dimana luapan emosi terhadap seseorang atau objek dialihkan kepada seseorang atau objek yang lain. Contoh: seorang anak yang dimarahi ibunya kemudian dia memukul adiknya atau menendang kucingnya.
6.  Disosiasi (Dissociation)
Beban emosi dalam suatu keadaan yang menyakitkan diputuskan atau diubah. Contoh: rasa sedih karena kematian seorang kekasig dikurangi dengan mengatakan “sudah nasibnya” atau “sekarang ia sudah tidak menderita lagi.”
7.  Fantasi/Khayalan (Fantacy/Image)
Tindakan berkhayal untuk memberikan pelarian dari kenyataan. Contoh: seorang anak yang kurang pandai lalu berkhayal dirinya menjadi bintang pelajar.
8.  Identifikasi (Identification)
Menambah rasa harga diri dengan menyamakan harga dirinya seperti seseorang atau suatu hal yang dikaguminya. Contoh: seorang anak bersolek seperti ibunya.
9.  Introyeksi (Intrijection)
Proses dimana seseorang mengambil ke dalam struktur egonya sendiri, semua atau kepribadiannya sendiri. Contoh: seorang anak yang membenci seseorang tapi ‘memasukkan’ ke dirinya sendiri, hingga jika ia kesal ke orang tersebut ia memukul dirinya sendiri.
10.  Negativisme (Negativism)
Proses perlawanan aktif atau pasif terhadap permintaan yang ditujukan kepada seseorang. Aktif yaitu kalau seseorang berbuat kebaikan dari apa yang diminta darinya. Pasif yaitu menghindar dari apa yang diharapkan padanya. Contoh: seorang anak yang disekolahkan tidak sesuai minatnya maka ia akan sering bolos sehingga prestasinya menjadi kurang.
11.  Proyeksi (Projection)
Menyalahkan orang lain mengenai kesulitannya sendiri atau melemparkan kepada orang lain mengenai keinginannya sendiri yang tidak baik. Contoh: seorang murid tidak lulus lalu mengatakan gurunya tidak suka padanya.
12.  Rasionalisasi (Rationalitation)
Mekanisme dimana seseorang membenarkan tingkah lakunya yang tidak konsekuen dan tidak baik. Contoh: seorang anak menolak diajak bermain bulu tangkis dengan alasan sakit (padahal sebenarnya takut kalah).
13.  Pembentukkan Reaksi (Reaction Formation)
Supaya tidak mengikuti keinginannya yang jelek, maka sebagai penghalang diambil sikap atau perilaku sebaliknya. Contoh: seorang mahasiswa yang bersikap hormat secara berlebihan terhadap dosen yang sebenarnya tidak ia suka.
14.  Regresi (Regression)
Keadaan seseorang yang kembali ke tingkay perkembangan yang lebih awal dan kurang matang dalam adaptasi. Bentuknya yang ekstrim adalah tingkah laku infantile. Contoh: seorang anak yang tidak mengompol lagi, mendadak mulai berbuat demikian lagi atau mulai menghisap jari karena setelah ia memiliki adik, ia merasa perhatian ibu terhadap dirinya berkurang.
15.  Sublimasi (Sublimation)
Dorongan-dorongan atau kehendak-kehendak yang tidak dapat disalurkan menjadi aktivitas yang memiliki nilai positif. Contoh: seseorang yang suka berkelahi kemudian ia menjadi atlet petinju yang hebat.
16.  Menghapuskan (Undoing)
Mekanisme dimana seseorang secara simbolis melakukan kebalikan sesuatu yang telah dikerjakannya atau pikiran yang tidak dapat diterima oleh egonya dan masyarakat. Contoh: seorang suami yang berselingkuh lalu ia memberi bermacam-macam hadiah kepada istrinya.
17.  Simpatisme
Berusaha mendapatkan simpati dengan jalan menceritakan berbagai kesukarannya. Bila ada yang menyatakan simpati kepadanya maka rasa harga dirinya diperkuat, biarpun ada kegagalan. Contoh: seorang siswa yang mengeluh bahwa dia tidak mempunyai buku-buku pelajaran karena orang tuanya miskin dan tidak bisa membelikannya lagipula ibunya sakit-sakitan.

Bagaimana penyesuaian diri yang baik?

          Menurut Shneiders, ciri orang yang berhasil dalam menyesuaikan diri adalah orang yang mampu merespon kebutuhan dan masalah secara matang, efesien, sehat, dan memberikan perasaan puas. Efesien adalah hasil yang diperoleh tidka banyak emmbuang waktu, energi, atau banyak mengalami kesalahan. Sehat adalah respon individu tersebut sesuai dengan hakikat kemanusiaannya, hubungan dengan orang lain dan hubungannya dengan Sang Pencipta.

Tidak ada komentar: