A. Intelegensi
Pengertian intelegensi
menunjukkan kepada bagaimana cara individu bertingkah laku/bertindak, yaitu
cepat/lambatnya individu di dalam memecah suatu masalah yang dihadapinya.
Intelegensi berkenaan dengan fungsi mental yang kompleks yang
diwujudkan/dimanifestasikan dalam tingkah laku. Intelegnsi meliputi aspek
kemampuan yaitu bagaimana individu memperhatikan, mengingat, mengamati,
memikirkan, menghafal serta bentuk-bentuk kegiatan mental lainnya.
Teori Intelegensi
Alfred Bined, beliau dikenal
sebagai pelopor dalam menyusun tes intelegensi. Menurut beliau intelegensi
mempunyai tiga aspek kemampuan, antara lain:
1.
Direction, yaitu kemampuan untuk memutuskan kepada suatu masalah yang harus
dipecahkan.
2.
Adaptation, yaitu kemampuan untuk mengadakan adaptasi terhadap masalah yang
dihadapinya/fleksibilitas di dalam menghadapi masalah.
3.
Critism, yaitu kemampuan untuk
mengadakan kritik, baik terhadap masalah yang dihadapi maupun terhadap dirinya
sendiri.
L.L. Thurstone, mengemukakan teori multifaktor yang meliputi tiga belas
faktor. Diantaranya ada tujuh faktor yang merupakan faktor dasar (primary abilities).
1)
Verbal comprehension (V), kecakapan untuk memahami pengertian yang diucapkan dengan
kata-kata
2)
Word ferency (W), kecakapan dan kefasihan menggunakan kata-kata
3)
Number (N), kecakapan
untuk memecahkan masalah matematika (penggunaan angka-angka/bilangan)
4)
Space (S), kecakapan
pandang ruang
5)
Memory (M), kecakapan
untuk mengingat
6)
Perceptual (P), kecakapan mengamati dan menafsirkan, persamaan, dan perbedaan
suatu objek
7)
Reasorsing (R), kecakapan menemukan dan menggunakan prinsip-prinsip
Tingkat Intelegensi
Ciri-ciri umum dari orang yang terbelakang, yaitu:
1.
Tidak dapat mengurus dan memenuhi
kebutuhan sendiri
2.
Kelambatan mental sejak lahir
3.
Kelambatan dalam kematangan
4.
Pada dasarnya tidak dapat diobati
A.Idiot (IQ 0-29)
Tingkat ini merupakan
kelompok individu terbelakang yang paling rendah. Ia tak dapat berbicara (hanya
beberapa kata), tidak mampu mengurus diri sendiri. Sehingga ia tidak dapat
diberi tugas rutin sekalipun sangat sederhana. Beberapa idiot dapat belajar
berjalan, tapi pada umumnya mereka tidak mampu dan harus tetap tinggal
berbaring selama hidupnya. Fisiknya lemah tidak tahan terhadap penyakit dan
tidak tahun terhadap bahaya. Ia tidak bisa dididik dan kebanyakan umurnya
pendek (mampu merawat).
B.
Embicile (IQ 30-49)
Mampu belajar berbahasa,
mampu mengurus dirinya sendiri, dapat diberi tugas-tugas yang sederhana/ringan,
seperti mengepel, menyapu, dsb. Tetapi dengan pengawasan yang teliti dan
membutuhkan kesabaran. Kecerdasannya setara dengan anak normal yang baru
berumur 3-7 tahun, tetapi tidak dapat dididik di sekolah biasa (dalam proses
belajar tergolong mampu dilatih).
C.
Moron/Debil (IQ 50-69)
Sampai tingkat tertentu
dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung yang sederhana (mampu dididik).
Dengan latihan-latihan yang baik dan belajar yang tekun ia dapat memperoleh
keterampilan-keterampilan yang ringan dan jabatan yang sederhana.
D.Borderline (IQ 70-79)
Kecerdasan di bawah
normal/rata-rata dan di atas kelompok terbelakang. Dapat mengurus diri sendiri
dan dengan susah payah mereka dapat mengerjakan sejumlah kecil
pekerjaan/pelajaran SLTP, tetapi jarang yang mampu sampai tamat.
E.
Below Average (IQ 80-89)
Agak lambat dalam
belajar. Sekalipun demikian mereka dapat menyelesaikan pendidikan pada tingkat
SLTP, tetapi agak sulit untuk menyelesaikan SLTA.
F.
Average/Rata-rata (IQ 90-110)
Merupakan kelompok
terbesar presentasenya di antara penduduk.
G.Bright Normal (IQ 110-119)
Kelompok normal yang
berada pada tingkat tertinggi.
H.Superior/Cerdas (IQ 120-139)
Orang cerdas ini
biasanya merupakan rapid leaner/giveted yaitu pemimpin dalam
kelasnya.
I.
Sangat Superior (IQ 140 ke atas)
Kecerdasannya luar biasa walaupun tidak
sekolah mampu menemukan dan memecahkan suatu masalah. Jumlahnya sangat sedikit
tetapi terdapat pada semua ras dan bangsa, semua jenis kelamin serta dalam
semua tingkatan ekonomi. Contoh: Einsten, Edison, dll.
B. Kreatifitas
Kreatifitas sangat dibutuhkan
apabila kita dihadapkan pada problem-problem/tuntutan-tuntutan dalam kehidupan
kita. Pengembangan kreatifitas kurang kita dapatkan di bangku sekolah, karena
yang kita peroleh di sekolah biasanya sebatas pengetahuan dan keterampilan yang
sifatnya statis dan rutin.
Teori Kreatifitas
1.
Kreatifits sebagai manifestasi dari jiwa
yang sehat. Menurut Maslow (1959) kreatifitas adalah manifestasi dari integrasi
kepribadian di mana tidak ada hambatan/rintangan antara alam kesadaran dan
ketidaksadaran. Orang demikian dapat berfungsi sepenuhnya, dapat mengaktualisasikan
dirinya.
2.
Jadi kreatifitas tidka hanya tergantung
pada kemampuan intelektual yang tinggi, tetapi juga pada perkembangan emosi
yang harmonis dan pada kekuatan ego anak.
Anak yang tegang bersifat takut dan walaupun sebetulnya pandai, tetapi
tidak tahan terhadap stress, kurang dapat diharapkan dapat berfungsi kreatif.
Begitu pula anak yang merasa tidak aman dan yang meras kurang mendapatkan
afeksi.
Kepribadian yang Kreatif
Roger (1973), keterbukaan
terhadap pengalaman, evaluasi diri, dan kemampuan untuk bermain dengan
konsep-konsep. Torrance (1955) berani dan mengemukakan pendapat dan keyakinan,
bersifat ingin tahu, bebas dalam berpikir, sibuk dengan tugasnya, ulet, dan
tidak mudah untuk bersedia menerima pendapat otoriter begitu saja.
Beberapa petunjuk yang
daapt mengarahkan orang tua dalam mengembangkan pemikiran kreatif anaknya:
a.
Hargailah pemikiran kreatif pada anak
b.
Rangsanglah anak untuk menjadi lebih sensitif
terhadap pengalaman-pengalaman dalam lingkungannya
c.
Doronglah rasa ingin tahu dan keinginan
untuk eksplorasi
d.
Ajarkan anak untuk menghargai pemikiran
kreatifnya
e.
Kembangkanlah kritik yang
konstruktif/membangun
C. Hubungan Antara Intelegensi dan Kreatifitas
1.
Orang yang mempunyai kreatifitas tinggi
bisa dipastikan mempunyai intelegensi tinggi pula
2.
Tetapi orang yang mempunyai intelegensi
tinggi belum tentu mempunyai kreatifitas tinggi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar