A. Definisi Ergonomi
Menurut ILO, “The application of the human biological
sciences in conjuction with the engineering sciences to achieve the optimum
mutual adjustment of man/woman and his/her work, the benefits being measured in
term of human efficiency and well-being.”
Menurut IEA (International Ergonomics Association), “The study of anatomical, physiological
aspect of human in working environment. It is concerned with the efficientcy,
health, safety, and comfort of the people at work, at home, and at play. This
generally requires the study of system in which humas, machines, and
environment interact, with the aim of fitting to the humans.”
Sedangkan definisi secara bebas,
ergonomi adalah bidang studi mutidisiplin yang mempelajari prinsip-prinsip
dalam mendesain peralatan, mesin, proses, dan tempat kerja yang sesuai dengan
kemampuan dan keterbatasan manusia yang menggunakannya.
B. Tujuan Ergonomi
1.
Memaksimalkan efesiensi kerja manusia
2.
Meningkatkan status K3
3.
Memberikan kenyamanan dan daya tarik
4.
Memaksimalkan kepercayaan untuk mecapai
peningkatan produktivitas
C. Ruang Lingkup Ergonomi
Ruang lingkup ergonomi meliputi
multidisiplin ilmu. Dan menjembatani beberapa disiplin ilmu dan profesional,
merangkum informasi-informasi, temuan-temuan serta prinsip-prinsip dari masing-masing
kelimuan tersebut.
D. Aplikasi Ergonomi
Aspek psikologis, biomekanika,
dan ergonomi berperan penting dalam perbaikan peralatan, tempat, dan lingkungan
kerja. Misalnya: bentuk pegangan dan berat suatu peralatan kerja, posisi
tubuh/lengan serta gerakan pada saat bekerja, penataan tempat kerja, perbaikan
pencahayaan, kebersihan tempat kerja.
Di tempat kerja, pekerja akan
saling berinteraksi dengan komponen-komponen sistem kerja seperti organisasi,
lingkungan, tempat kerja, jabatan, tugas kerja, desain mesin, dan desain alat
bantu kerja. pendekatan praktis digunakan untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip
ergonomi di tempat kerja dengan mempertimbangkan keseimbangan dan keselarasan
antara pekerja dan komponen sistem kerja tersebut.
Berbagai sistem kerja yang
mengaplikasikan prinsip-prinsip ergonomi dapat mengurangi stres fisik yang
berlebihan dan tercapainya penampilan yang optimal demi tercapainya peningkatan
produktivitas kerja serta mengurangi kemungkinan terjadinya gangguan
muskuloskeletal dan gangguan kesehatan lain pada pekerja.
E. Interaksi Organisasi dan Pekerja
Organisasi tempat kerja adalah
perencanaan koordinasi beberapa orang pekerja berdasarkan kelompok-kelompok
kerja hierarki tugas kerja untuk mecapai tujuan bersama. Budaya kerja
organisasi yang baik harus menerima konsep keselamatan kerja dan prosedur
pelaksanaan kerja yang sehat sebagai prioritas utama dari salah satu kebijakan
kerjanya.
Budaya ini harus didukung oleh
berbagai pihak. Budaya kerja yang tidak menuntut produktivitas melebihi
pertimbangan keselamatan kerja harus didukung oleh manajer, misalnya dalam
mengatur penjadwalan siklus istirahat, kerja lembur, rotasi tugas kerja, dll.
Manajer juga harus mempertimbangkan kebutuhan fisiologis dan psikologis
pekerja.
Kebijakan organisasi
yang menyokong konsep K3 sangat mempengaruhi penampilan kerja, misalnya:
a.
Penjadwalan waktu istirahat dan kerja
lembur
b.
Pemeliharaan mesin dan alat bantu kerja
secara berkala
c.
Pemeriksaan kesehatan sebelum masuk kerja
d.
Penempatan individu pekerja pada tempat
kerja yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya
e.
Pelatihan KESKER senantiasa menjadi prosedur
rutin dalam PROJA setiap kelompok kerja
Pihak manajemen harus
berupaya untuk menumbuhkan adanya pola komunikasi, proses pengambilan keputusan
dan mekanisme umpan balik yang baik. Manjemen harus memberikan pelatihan dan
memantau implementasi prosedur standar untuk pekerja yang berbahaya, mesin dan
peralatan kerja harus diusahakan dapat cukup terjaga untuk tidak membahyakan
terhadap kesalahan operasi, dan prosedur penjadwalan harus disesuaikan dengan
kemungkinan timbulnya ketidakpastian dan kelambatan.
Pekerja harus
diikutsertakan dalam perbaikan sistem kerja. pekerja harus turut
meminimalisasikan potensi kesalahan operasi dengan menyingkirkan semua elemen
yang dapat menyebabkan kegagalan kerja mesin-mesin yang berpotensi menimbulkan
gangguan keselamatan kerja.
F. Interaksi Lingkungan Tenaga Kerja dan
Individu
Faktor-faktor lingkungan di
tempat kerja, seperti: cuaca, temperatur tempat kerja yang ekstrem,
pencahayaan, bising, bau-bauan, ventilisasi, vibrasi, dll dapat mempengaruhi
penampilan dan produktivitas pekerja yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan
akibat kerja, terkadang memiliki gejala seperti penyakit umum lainnya atau
dapat juga mencetuskan timbulnya penyakit umum yang diderita pekerja.
Perubahan ventilasi dapat
mengakibatkan timbulnya sick building syndrom yang menyerupai
penyakit influenza. Penyakit tersebut sebenarnya merupakan penyakit sosiogenik,
karena gangguan ini timbul tanpa diakibatkan berkurangnya kualitas udara di
lingkungan kerja. Penyakit asma dapat ditimbulkan atau dicetuskan oleh
fakyor-faktor lingkungan di tempat kerja.
Temperatur tempat kerja yang terlalu
panas atau terlalu dingin, mengakibatkan terjadinya kontraksi pembuluh-pembuluh
darah tepi, yang mengakibatkan berkurangnya sensitivitas, koordinasi komponen-komponen
tubuh, dan fleksibilitas sehingga lebih rentan untuk timbulnya cedera.
Temperatur yang terlalu tinggi mengakibatkan cepat lelah dan timbulnya heat
stress.
Pajanan terhadap vibrasi terjadi
akibat penggunaan alat bantu genggam yang bergetar (segmental) atau mengendarai
kendaraan yang menimbulkan getaran (wholebody). Vibrasi segemntal akan
mengakibatkan timbulnya stres terhadap tendo, otot-otot, sendi, dan syaraf tepi
jari, tangan, dan lengan sehingga dapat menimbulkan hilangnya rasa raba,
kesemutan, dan timbulnya rasa nyeri pada saat menggenggam. Vibrasi wholebody mempengaruhi
hampir semua jaringan tubuh terutama pada tulang belakang dan medula spinalis.
Memelihara kondisi tempat kerja
tanpa melampaui nilai-nilai ambang batas masing-masing komponen kerja seperti
terhadap paparan bising, vibrasi segmental, cold stress, heat
stress, dan radiasi merupakan pengendalian terbaik untuk mencegah gangguan
kesehatan akibat faktor lingkungan tempat kerja.
G. Interaksi Tenaga Kerja dan Individu
Pekerja
Lokasi ruang kerja (work
place) adalah area fisik tempat seseorang pekerja melakukan aktivitas.
Tempat kerja (work station) adalah lokasi ruang kerja serta bagian dari
mesin dan peralatan seorang pekerja melakukan berbagai aktivitas kerja, tempat
kerja menghabiskan seluruh atau sebagian hari kerjanya.
Salah satu penyebab terjadinya
stress fisik akibat kerja adalah terjadinya ketidaksesuaian dua komponen tempat
kerja dengan pekerja sehingga mengharuskan pekerja bekerja dengan posisi sulit
seperti membungkuk, dll.
Gangguan muskuloskeletal sering
kali terjadi karena umumnya meja kerja, peralatan, dan mesin didesain dengan
ukuran yang lebih besar agar dapat juga dipakai oleh orang yang lebih kecil.
Prinsip ergonomi yang benar mengahruskan meja kerja yang sesuai atau dapat
disesuaikan dengan ukuran individu yang menggunakanny, dalam hal ini data
antropometri segmen tubuh digunakan untuk menentukan jarak lolos bagian tubuh,
sikap yang nyaman guna memastikan terjaminnya syarat-syarat K3 serta untuk
mengembangkan terciptanya keselarasan dan kenyaman bekerja.
Aktivitas pekerja dalam
melakukan tugasnya juga harus diperhitungkan saat mendesain meja kerja yang
ergonomis, misalnya:
-
Bekerja di atas meja kerja yang terlalu
tinggi merupakan faktor resiko repetitive, strain injury karena
terjadi abduksi lengan atas di sendi bahu, sehingga pergerakan tangan dalam
bidang horizontal di sendi pergelangan tangan akan membutuhkan usaha tambahan
dalam bentuk ayunan di sendi bahu.
-
Bekerja di atas meja yang terlalu rendah
merupakan faktor resiko low back pain karena pekerja harus membungkuk untuk
jangka waktu yang terlalu lama selama bekerja.
H. Interaksi Jabatan dan Individu Pekerja
Jabatan diartikan sebagai
peranan individu pekerja dalam organisasi tempat kerja meliputi sejumlaah tugas
khusus yang dilaksanakan terus-menerus setiap hari kerja. Perencanaan beban
tugas (job design) adalah program kerja yang menciptakan peranan individu
pekerja dalam organisasi agar dapat berinteraksi secara sistematis dengan
pekerja yang lain, dengan produk serta tugas-tugas pelayanan agar dapat
mencapai tuntutan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan mentalnya.
Perencanaan beban tugas seorang
pekerja harus didasarkan pada tuntutan pekerjaan yang dibebankan oleh
organisasi kerja. Demi tercapainya perencanaan tugas yang sesuai dengan
prinsip-prinsip K3, maka perencanaan beban tugas harus seimbang dengan
keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan fisik pekerja, serta penyediaan sistem
kerja, seperti peralatan, mesin-mesin, dan prosedur kerja yang memadai.
Perencanaan tugas berdasarkan
pada analisis tugas, menurut aktivitas yang dibuthkan pekerja
1.
Analisis biomekanik (gerakan bagian tubuh,
jangkauan, kekuatan, daya tahan, kecepatan, dan respon mekanik terhadap stres
fisik, tes terhadapa stres kardiovaskular, pengukuran konsumsi pemakaian
tenaga, dll) diperlukan untuk pekerjaan dengan aktivitas mengangkat beban atau
penggunaan tenaga fisik ayng berat.
2.
Audiogram pada pekerjaan yang dilakukan di
tempat bising dilakukan
a.
Pertimbangan tentang nilai ambang batas,
misalnya:
-
Aktivitas mengangkat beban
-
Pekerjaan yang menggunakan peralatan yang
dapat menimbulkan vibrasi
-
Pekerjaan yang membutuhkan gerakan tangan
yang berulang
b.
Pemeriksaan medis sebelum bekerja dan
pemeriksaan medi untuk penugasan di tempat kerja, terutama yang mengandung
resiko tinggi harus dilaksanakan dengan seksama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar