Minggu, 03 Agustus 2014

Ergonomi

A. Definisi Ergonomi
        Menurut ILO, “The application of the human biological sciences in conjuction with the engineering sciences to achieve the optimum mutual adjustment of man/woman and his/her work, the benefits being measured in term of human efficiency and well-being.”
        Menurut IEA (International Ergonomics Association), “The study of anatomical, physiological aspect of human in working environment. It is concerned with the efficientcy, health, safety, and comfort of the people at work, at home, and at play. This generally requires the study of system in which humas, machines, and environment interact, with the aim of fitting to the humans.”
        Sedangkan definisi secara bebas, ergonomi adalah bidang studi mutidisiplin yang mempelajari prinsip-prinsip dalam mendesain peralatan, mesin, proses, dan tempat kerja yang sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia yang menggunakannya.

B. Tujuan Ergonomi
1.  Memaksimalkan efesiensi kerja manusia
2.  Meningkatkan status K3
3.  Memberikan kenyamanan dan daya tarik
4.  Memaksimalkan kepercayaan untuk mecapai peningkatan produktivitas

C. Ruang Lingkup Ergonomi
        Ruang lingkup ergonomi meliputi multidisiplin ilmu. Dan menjembatani beberapa disiplin ilmu dan profesional, merangkum informasi-informasi, temuan-temuan serta prinsip-prinsip dari masing-masing kelimuan tersebut.

D. Aplikasi Ergonomi
        Aspek psikologis, biomekanika, dan ergonomi berperan penting dalam perbaikan peralatan, tempat, dan lingkungan kerja. Misalnya: bentuk pegangan dan berat suatu peralatan kerja, posisi tubuh/lengan serta gerakan pada saat bekerja, penataan tempat kerja, perbaikan pencahayaan, kebersihan tempat kerja.
        Di tempat kerja, pekerja akan saling berinteraksi dengan komponen-komponen sistem kerja seperti organisasi, lingkungan, tempat kerja, jabatan, tugas kerja, desain mesin, dan desain alat bantu kerja. pendekatan praktis digunakan untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip ergonomi di tempat kerja dengan mempertimbangkan keseimbangan dan keselarasan antara pekerja dan komponen sistem kerja tersebut.
        Berbagai sistem kerja yang mengaplikasikan prinsip-prinsip ergonomi dapat mengurangi stres fisik yang berlebihan dan tercapainya penampilan yang optimal demi tercapainya peningkatan produktivitas kerja serta mengurangi kemungkinan terjadinya gangguan muskuloskeletal dan gangguan kesehatan lain pada pekerja.

E. Interaksi Organisasi dan Pekerja
        Organisasi tempat kerja adalah perencanaan koordinasi beberapa orang pekerja berdasarkan kelompok-kelompok kerja hierarki tugas kerja untuk mecapai tujuan bersama. Budaya kerja organisasi yang baik harus  menerima konsep keselamatan kerja dan prosedur pelaksanaan kerja yang sehat sebagai prioritas utama dari salah satu kebijakan kerjanya.
        Budaya ini harus didukung oleh berbagai pihak. Budaya kerja yang tidak menuntut produktivitas melebihi pertimbangan keselamatan kerja harus didukung oleh manajer, misalnya dalam mengatur penjadwalan siklus istirahat, kerja lembur, rotasi tugas kerja, dll. Manajer juga harus mempertimbangkan kebutuhan fisiologis dan psikologis pekerja.
Kebijakan organisasi yang menyokong konsep K3 sangat mempengaruhi penampilan kerja, misalnya:
a.   Penjadwalan waktu istirahat dan kerja lembur
b.  Pemeliharaan mesin dan alat bantu kerja secara berkala
c.   Pemeriksaan kesehatan sebelum masuk kerja
d.  Penempatan individu pekerja pada tempat kerja yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya
e.   Pelatihan KESKER senantiasa menjadi prosedur rutin dalam PROJA setiap kelompok kerja

Pihak manajemen harus berupaya untuk menumbuhkan adanya pola komunikasi, proses pengambilan keputusan dan mekanisme umpan balik yang baik. Manjemen harus memberikan pelatihan dan memantau implementasi prosedur standar untuk pekerja yang berbahaya, mesin dan peralatan kerja harus diusahakan dapat cukup terjaga untuk tidak membahyakan terhadap kesalahan operasi, dan prosedur penjadwalan harus disesuaikan dengan kemungkinan timbulnya ketidakpastian dan kelambatan.
Pekerja harus diikutsertakan dalam perbaikan sistem kerja. pekerja harus turut meminimalisasikan potensi kesalahan operasi dengan menyingkirkan semua elemen yang dapat menyebabkan kegagalan kerja mesin-mesin yang berpotensi menimbulkan gangguan keselamatan kerja.

F. Interaksi Lingkungan Tenaga Kerja dan Individu
        Faktor-faktor lingkungan di tempat kerja, seperti: cuaca, temperatur tempat kerja yang ekstrem, pencahayaan, bising, bau-bauan, ventilisasi, vibrasi, dll dapat mempengaruhi penampilan dan produktivitas pekerja yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan akibat kerja, terkadang memiliki gejala seperti penyakit umum lainnya atau dapat juga mencetuskan timbulnya penyakit umum yang diderita pekerja.
        Perubahan ventilasi dapat mengakibatkan timbulnya sick building syndrom yang menyerupai penyakit influenza. Penyakit tersebut sebenarnya merupakan penyakit sosiogenik, karena gangguan ini timbul tanpa diakibatkan berkurangnya kualitas udara di lingkungan kerja. Penyakit asma dapat ditimbulkan atau dicetuskan oleh fakyor-faktor lingkungan di tempat kerja.
        Temperatur tempat kerja yang terlalu panas atau terlalu dingin, mengakibatkan terjadinya kontraksi pembuluh-pembuluh darah tepi, yang mengakibatkan berkurangnya sensitivitas, koordinasi komponen-komponen tubuh, dan fleksibilitas sehingga lebih rentan untuk timbulnya cedera. Temperatur yang terlalu tinggi mengakibatkan cepat lelah dan timbulnya heat stress.
        Pajanan terhadap vibrasi terjadi akibat penggunaan alat bantu genggam yang bergetar (segmental) atau mengendarai kendaraan yang menimbulkan getaran (wholebody). Vibrasi segemntal akan mengakibatkan timbulnya stres terhadap tendo, otot-otot, sendi, dan syaraf tepi jari, tangan, dan lengan sehingga dapat menimbulkan hilangnya rasa raba, kesemutan, dan timbulnya rasa nyeri pada saat menggenggam. Vibrasi wholebody mempengaruhi hampir semua jaringan tubuh terutama pada tulang belakang dan medula spinalis.
        Memelihara kondisi tempat kerja tanpa melampaui nilai-nilai ambang batas masing-masing komponen kerja seperti terhadap paparan bising, vibrasi segmental, cold stress, heat stress, dan radiasi merupakan pengendalian terbaik untuk mencegah gangguan kesehatan akibat faktor lingkungan tempat kerja.

G. Interaksi Tenaga Kerja dan Individu Pekerja
        Lokasi ruang kerja (work place) adalah area fisik tempat seseorang pekerja melakukan aktivitas. Tempat kerja (work station) adalah lokasi ruang kerja serta bagian dari mesin dan peralatan seorang pekerja melakukan berbagai aktivitas kerja, tempat kerja menghabiskan seluruh atau sebagian hari kerjanya.
        Salah satu penyebab terjadinya stress fisik akibat kerja adalah terjadinya ketidaksesuaian dua komponen tempat kerja dengan pekerja sehingga mengharuskan pekerja bekerja dengan posisi sulit seperti membungkuk, dll.
        Gangguan muskuloskeletal sering kali terjadi karena umumnya meja kerja, peralatan, dan mesin didesain dengan ukuran yang lebih besar agar dapat juga dipakai oleh orang yang lebih kecil. Prinsip ergonomi yang benar mengahruskan meja kerja yang sesuai atau dapat disesuaikan dengan ukuran individu yang menggunakanny, dalam hal ini data antropometri segmen tubuh digunakan untuk menentukan jarak lolos bagian tubuh, sikap yang nyaman guna memastikan terjaminnya syarat-syarat K3 serta untuk mengembangkan terciptanya keselarasan dan kenyaman bekerja.
        Aktivitas pekerja dalam melakukan tugasnya juga harus diperhitungkan saat mendesain meja kerja yang ergonomis, misalnya:
-     Bekerja di atas meja kerja yang terlalu tinggi merupakan faktor resiko repetitive, strain injury karena terjadi abduksi lengan atas di sendi bahu, sehingga pergerakan tangan dalam bidang horizontal di sendi pergelangan tangan akan membutuhkan usaha tambahan dalam bentuk ayunan di sendi bahu.
-     Bekerja di atas meja yang terlalu rendah merupakan faktor resiko low back pain karena pekerja harus membungkuk untuk jangka waktu yang terlalu lama selama bekerja.

H. Interaksi Jabatan dan Individu Pekerja
        Jabatan diartikan sebagai peranan individu pekerja dalam organisasi tempat kerja meliputi sejumlaah tugas khusus yang dilaksanakan terus-menerus setiap hari kerja. Perencanaan beban tugas (job design) adalah program kerja yang menciptakan peranan individu pekerja dalam organisasi agar dapat berinteraksi secara sistematis dengan pekerja yang lain, dengan produk serta tugas-tugas pelayanan agar dapat mencapai tuntutan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan mentalnya.
        Perencanaan beban tugas seorang pekerja harus didasarkan pada tuntutan pekerjaan yang dibebankan oleh organisasi kerja. Demi tercapainya perencanaan tugas yang sesuai dengan prinsip-prinsip K3, maka perencanaan beban tugas harus seimbang dengan keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan fisik pekerja, serta penyediaan sistem kerja, seperti peralatan, mesin-mesin, dan prosedur kerja yang memadai.
        Perencanaan tugas berdasarkan pada analisis tugas, menurut aktivitas yang dibuthkan pekerja
1.  Analisis biomekanik (gerakan bagian tubuh, jangkauan, kekuatan, daya tahan, kecepatan, dan respon mekanik terhadap stres fisik, tes terhadapa stres kardiovaskular, pengukuran konsumsi pemakaian tenaga, dll) diperlukan untuk pekerjaan dengan aktivitas mengangkat beban atau penggunaan tenaga fisik ayng berat.
2.  Audiogram pada pekerjaan yang dilakukan di tempat bising dilakukan
a.   Pertimbangan tentang nilai ambang batas, misalnya:
-     Aktivitas mengangkat beban
-     Pekerjaan yang menggunakan peralatan yang dapat menimbulkan vibrasi
-     Pekerjaan yang membutuhkan gerakan tangan yang berulang

b.  Pemeriksaan medis sebelum bekerja dan pemeriksaan medi untuk penugasan di tempat kerja, terutama yang mengandung resiko tinggi harus dilaksanakan dengan seksama.

Tidak ada komentar: