Senin, 04 Agustus 2014

Sikap dan Perilaku

Dari sekian banyak defenisi sikap dapat dijadikan/dimasukkan ke dalam salah satu di antara tiga kerangka pemikiran:
1.  Louise Thumbstone dan Charles Orgood
Sikap adalah suatu bentuk evolusi atau reaksi perasaan. Sikap adalah derajat efek positif atau efek negatif yang dikaitkan dengan suatu objek psikologis.
2.  Gordon Allport
Sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Kesiapan dalam definisi ini sebagai suatu kecenderungan potensial untuk bereaksi apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.
3.  Ahli psikologi kognitif
Sikap merupakan gabungan dari komponen kognitif, afektif, dan konatif yang berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek.

Sikap ini bersifat dinamis dan terbuka terhadap kemungkinan perubahan dikarenakan interaksi seseorang dengan lingkungan di sekitarnya. Kemudian, sikap hanya akan ada artinya bila ditempatkan dalam bentuk pernyataan perilaku, baik perilaku lisan atau perilaku perbuatan.
Memang benar, sikap yang dinyatakan secara terbuka tidak selalu sesuai dengan sikap hatinya yang sesungguhnya, banyak hal yang mempengaruhinya. Namun demikian, suatu sikap yang tidak dinyatakan, tidak akan banyak artinya dalam pemahaman dinamika psikologi sosial yang menjadikan individu dalam masyarakat sebagai objek studinya.

Menurut Sax (1980), karakteristi sikap, antara lain:
1.  Arah
Artinya sikap akan menunjukkan apakah seseorang menyetujui atau tidak menyetujui, apakah mendukung atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak memihak terhadap objek sikap.
2.  Intensitas
Artinya intensitas/kekuatan sikap pada setiap orang belum tentu sama.
3.  Keluasan
Artinya luas tidaknya cakupan aspek objek sikap yang disetuji/tidak disetujui oleh seseorang.
4.  Konsistensi
Artinya kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan oleh subjek dengan responnya terhadap objek sikap. Konsistensi ini juga ditunjukkan oleh tidak adanya kebimbangan dalam bersikap.
5.  Spontanitas
Artinya sejauh mana kesiapan subjek untuk menyatakan sikapnya secara spontan. Suatu sikap dinyatakan mempunyai spontanitas yang tinggi, apabila sikap dinyatakan tanpa perlu mengadakan pengungkapan atau desakan agar subjek menyatakan sikapnya.

Dilihat dari strukturnya sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang:
a.   Kognitif
Berisi kepercayaan seseorang terhadap objek sikap. Kepercayaan datang dari apa yang telah kita lihat atau apa yang telah kita ketahui. Kadang-kadang kepercayaan terbentuk justru dikarenakan tidak adanya informasi yang tepat mengenai objek yang dihadapi.
b.  Afektif
Menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap sesuatu objek sikap (perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu).
c.   Konatif
Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan sehingga membentuk sikap individual.

Para ahli psikologi sosial beranggapan bahwa ketiganya adalah selaras dan konsisten, dikarenakan apabila dihadapkan dengan satu objek sikap yang sama maka ketiga komponen itu harus mempolakan arah sikap yang seragam. Apabila tidak konsisten satu sama lain maka akan terjadi ketidakselarasan yang menyebabkan timbulnya mekanisme perubahan sikap.
Banyak faktor yang mempengaruhi pembentukkan sikap, antara lain:
1.  Pengalaman pribadi
Apa yang kita alami akan membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial/objek psikoogis. Pengalaman pribadi ini harus menimbulkan kesan yang kuat/melibatkan faktor emosional. Tidak adanya pengalaman sama sekali dengan sesuatu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut.
2.  Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Maksudnya, seseorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak tindak dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan/seseorang yang berarti khusus bagi kita, akan banyak mempengaruhi pembentukkan sikap kita terhadap sesuatu. Misalnya, orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, suami/istri, dll.
3.  Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan pengaruh besar terhadap pembentukkan sikap kita. Hanya kepribadian yang kuat dapat memudarkan dominasi kebudayaan dalam pembentukkan sikap individual.
4.  Media massa
Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang.
5.  Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Kedua lembaga inilah yang meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.
6.  Pengaruh faktor emosional

Kalau dasarnya adalah faktor emosi semata, ini lebih berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi (ketidakberdayaan). Contohnya prasangka.

Tidak ada komentar: