Pengertian
Vektor adalah organisme hidup
yang dapat menularkan agen penyakit dari satu hewan ke hewan lain atau ke
manusia (Budiman C, 2006).
Vektor adalah Anthropoda yang dapat memindahkan atau
menularkan suatu infectious agent
dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan (Adang I, 1985).
Vektor adalah seekor binatang
yang membawa bibit penyakit dari seekor binatang atau seorang manusia kepada
binatang lainnya atau manusia lainnya (Adi, H.S, 1993).
Binatang
penganggu
adalah binatang yang dapat menyerang atau menularkan penyakit tehadap manusia,
binatang atau tumbuh-tumbuhan; kecoa, tikus, dll.
Vector
borne disease
adalah penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan/ditularkan dengan perantara
vektor (Hadi, A, 1996).
Jenis vektor
- Nyamuk : serangga yang
termasuk kelas Insecta, ordo Diptera atau famili Culicidae, selain menganggu
manusia dan binatang melalui gigitan juga sebagai vektor penyakit; genus Culex,
Anopheles, dan Aedes.
- Lalat : serangga penganggu
termasuk genus Musca Dornestica, lalat rumah sebagai vektor mekanik, amebiasis,
disentri, dan kecacingan usus di Indonesia.
- Kutu : termasuk ordo
Anoplura (dua genus yang pentinf; Pediculus dan Pthirus).
- Pinjal : penyebar penyakit
pes (tikus, kucing, dan anjing)
- Tungau : penyebar penyakit
ricketsiosis, sarcopes scabies hominis (kulit)
Proses penularan penyakit
1. Penularan langsung
Kontak
fisik (persinggungan, gigitan, ciuman, hubungan seks); tidak kontak langsung
(droplet ke host baru < 1 m jarak)
2. Penularan tidak langsung
a. Vehicle borne
Benda
kedua yang terkontaminasi yang membantu trasportasi penyebab penyakit untuk
masuk ke dalam tubuh pejamu melalui portal
entery yang tepat. Pada dasarnya agen tidak dapat berkembang, tetapi tetap
bertahan hidup. Contoh: alat dapur, alat medis, air, makanan, mainan anak, dll
b. Vector borne
Anthropoda atau invetebrata lain
yang memindahkan infectius agent baik
secara mekanis maupun biologis kepada pejamu baru. Transmisi melalui vektor
dapat secara mekanik/biologi. Transmisi secara biologi memerlukan perkembangbiakan,
siklus, atau kombinasi keduanya.
c. Air borne
Penyebaran infectius
agent melalui aerosol ke dalam tubuh pejamu (saluran pernapasan).
Pengendalian organisme
pengganggu
Tujuannya, antara lain:
1. Mengurangi atau menekan
populasi organisme pengganggu serendah-rendahnya sehingga tidak berarti lagi
dalam menimbulkan kerugian.
2. Menghindarkan kontak
antara organisme pengganggu dan organisme berguna/budidaya/manusia.
Penggolongan,
antara lain:
1. Pengendalian alami (natural control)
2. Pengendalian buatan (artificial/applied control)
Pengendalian alami
1. Gunung, lautan, danau, dan
sungai yang luas merupakan rintangan penyeberangan serangga.
2. Ketinggian tertentu
menyebabkan serangga tidak tahan hidup.
3. Musim, cuaca panas,
dingin, kering, tanah tandus, angin besar, dan curah hujan tinggi.
4. Burung, katak, cicak,
binatang lain yang memangsa serangga.
5. Penyakit serangga.
Pengendalian buatan
Dilakukan atas usaha
manusia. Macam-macamnya, antara lain:
1. Pengendalian lingkungan (environmental control)
Mengelola
lingkungan (environmental management) yaitu mengatur lingkungan sehingga tidak
cocok dan membatasi perkembangan vektor.
a. Modifikasi lingkungan (environmental modification)
Cara
ini paling aman terhadap lingkungan karena tidak merusak keseimbangan alam dan
tidak mencemari lingkungan tetapi harus dilakukan terus-menerus. Misalnya:
a) Pengaturan sistem irigasi
b) Penimbunan tempat
penampung air dan pembuangan sampah
c) Pengeringan air yang
menggenang
d) Pengubahan rawa menjadi
sawah
e) Pengubahan lautan menjadi
pemukiman
b. Manipulasi lingkungan (environmental manipulation)
Membersihkan
dan memelihara secara fisik tempat perindukan atau tempat istirahat serangga.
Misalnya:
a) Membersihkan tanaman air
yang mengapung seperti ganggang dan lumut sehingga menyulitkan perkembangan Anopheles sundaicus.
b) Mengatur kadar garam di
laguna sehingga menekan populasi An.
subpictus dan An. sundaicus.
c) Melestarikan tanaman bakau
yang membatasi tempat perindukan An.
sundacius.
d) Membuang atau mencabut
tumbuhan air di kolam atau rawa sehingga menekan populasi Mansonia spp.
e) Melancarkan air got agar
tidak jadi tempat perindukan Culex spp.
2. Pengendalian kimiawi
Menggunakan
bahan kimia yang berkhasiat membunuh serangga (insecticide) dan menghalau serangga (repellent).
Kebaikan:
a. Dapat dilakukan segera
b. Meliputi daerah yang luas
Keburukan:
a. Bersifat sementara
b. Menimbulkan pencemaran
lingkungan
c. Menimbulkan timbul
resistensi serangga
d. Membunuh juga pemangsa
serangga
e. Penolakan penduduk karena
kuatir binatang peliharaannya mati
Contoh:
a) Menuangkan solar atau
minyak tanah di permukaan tempat perindukan sehingga larva tidak dapat
mengambil oksigen dari udara
b) Pemakaian paris green,
tamefos, dan fention untuk membunuh larva nyamuk
c) Penggunaan herbisida yang
mematikan tumbuhan air di tempat perindukan
d) Penggunaan insektisida
berupa residual spray untuk nyamuk dewasa
e) Penggunaan gel silika dan
lesitin cair
3. Pengendalian mekanik
Menggunakan
alat yang langsung membunuh, menangkap atau menghalau, menyisir, mengeluarkan
serangga dari jaringan tubuh, memakai baju pelindung, memasang kawat kasa di
jendela untuk menghindarkan kontak antara manusia dan vektor.
4. Pengendalian fisik
Digunakan
alat fisika untuk pemanasan, pembekuan, dan alat listrik untuk menghasilkan
angin, penyinaran cahaya untuk dapat membunuh atau mengganggu kehidupan
serangga. Suhu 60 derajat celcius dan suhu beku akan membunuh serangga
sedangkan suhu dingin menyebabkan serangga tidak dapat melakukan aktivitasnya.
Cara
ini dilakukan di hotel, restoran, dan pasar swalayan dengan memasang hembusan
angin keras di pintu masuk. Memasang lampu kuning dapat menghalau nyamuk.
5. Pengendalian biologik
Memperbanyak
pemangsa dan parasit sebagai musuh alami bagi serangga yang menjadi vektor atau
hospes perantara. Beberapa parasit dari golongan nematoda, bakteri, protozoa,
jamur, dan virus dapat dipakai sebagai pengendali larva nyamuk. Antropoda juga
dapat dipakai sebagai pengendali nyamuk dewasa, misalnya: Arrenurus madarazzi. Predator atau pemangsa yang baik untuk
pengendalian larva nyamuk antara lain beberapa jenis ikan, larva nyamuk yang
berukuran sedang, dan larva capung, dan Crustaceae.
6. Pengendalian genetik
Tujuannya
adalah mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru yang
tidak merugikan.
Caranya:
a. Mengubah kemampuan
reproduksi serangga.
a) Jantan, disebut sterille male technic release
Bahan
kimia (TEPA) dan radiasi (Cobalt 60) merusak DNA kromosom sperma tanpa
mengganggu proses pematangan. Radiasi juga dapat mengubah letak susunan
kromosom (chromosome translocation).
Antimiotik, antimetabolit, bazarone (ekstrak tanaman Aeorus calamus).
b) Jantan dan betina di alam
disterilkan menggunakan chemosterilants
dicampur makanan kesukaan serangga. Telah dicoba pada lalat rumah (Musca domestica) yang diberi TEPA
dicampur 67% tepung jagung, 15% gula, 15% susu bubuk, dan 2,5% tepung telur.
Keuntungannya tidak perlu memelihara serangga dalam jumlah banyak dalam
laboratorium.
b. Perkawinan antar strain
menyebabkan sitoplasma telur tidak dapat ditembus oleh sperma sehingga tidak
terjadi pembuahan, proses ini disebut cytoplasmic
incompatibility.
c. Perkawinan antar spesies
terdekat menghasilkan jantan steril yang disebut hybrid sterility.
d. Memindahkan sifat rentan
terhadap insektisida.
7. Pengendalian legislatif
Mencegah
tersebarnya serangga berbahaya antar daerah, pulau maupun negara melalui
peraturan. Pencegahan dilaksanakan dengan penyemprotan insektisida di bandara,
pelabuhan, stasiun, terminal, dsb serta disediakan karantina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar