Rabu, 21 Agustus 2013

Vektor dan Penyakit


Pengertian
Vektor adalah organisme hidup yang dapat menularkan agen penyakit dari satu hewan ke hewan lain atau ke manusia (Budiman C, 2006).
Vektor adalah Anthropoda yang dapat memindahkan atau menularkan suatu infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan (Adang I, 1985).
Vektor adalah seekor binatang yang membawa bibit penyakit dari seekor binatang atau seorang manusia kepada binatang lainnya atau manusia lainnya (Adi, H.S, 1993).
Binatang penganggu adalah binatang yang dapat menyerang atau menularkan penyakit tehadap manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan; kecoa, tikus, dll.
Vector borne disease adalah penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan/ditularkan dengan perantara vektor (Hadi, A, 1996).

Jenis vektor
-    Nyamuk : serangga yang termasuk kelas Insecta, ordo Diptera atau famili Culicidae, selain menganggu manusia dan binatang melalui gigitan juga sebagai vektor penyakit; genus Culex, Anopheles, dan Aedes.
-    Lalat : serangga penganggu termasuk genus Musca Dornestica, lalat rumah sebagai vektor mekanik, amebiasis, disentri, dan kecacingan usus di Indonesia.
-    Kutu : termasuk ordo Anoplura (dua genus yang pentinf; Pediculus dan Pthirus).
-    Pinjal : penyebar penyakit pes (tikus, kucing, dan anjing)
-    Tungau : penyebar penyakit ricketsiosis, sarcopes scabies hominis (kulit)

Proses penularan penyakit
1.  Penularan langsung
Kontak fisik (persinggungan, gigitan, ciuman, hubungan seks); tidak kontak langsung (droplet ke host baru < 1 m jarak)
2. Penularan tidak langsung
a.  Vehicle borne
Benda kedua yang terkontaminasi yang membantu trasportasi penyebab penyakit untuk masuk ke dalam tubuh pejamu melalui portal entery yang tepat. Pada dasarnya agen tidak dapat berkembang, tetapi tetap bertahan hidup. Contoh: alat dapur, alat medis, air, makanan, mainan anak, dll
b. Vector borne
Anthropoda atau invetebrata lain yang memindahkan infectius agent baik secara mekanis maupun biologis kepada pejamu baru. Transmisi melalui vektor dapat secara mekanik/biologi. Transmisi secara biologi memerlukan perkembangbiakan, siklus, atau kombinasi keduanya.
c.  Air borne
Penyebaran  infectius agent melalui aerosol ke dalam tubuh pejamu (saluran pernapasan).

Pengendalian organisme pengganggu
Tujuannya, antara lain:
1.  Mengurangi atau menekan populasi organisme pengganggu serendah-rendahnya sehingga tidak berarti lagi dalam menimbulkan kerugian.
2. Menghindarkan kontak antara organisme pengganggu dan organisme berguna/budidaya/manusia.

Penggolongan, antara lain:
1.  Pengendalian alami (natural control)
2. Pengendalian buatan (artificial/applied control)

Pengendalian alami
1.  Gunung, lautan, danau, dan sungai yang luas merupakan rintangan penyeberangan serangga.
2. Ketinggian tertentu menyebabkan serangga tidak tahan hidup.
3. Musim, cuaca panas, dingin, kering, tanah tandus, angin besar, dan curah hujan tinggi.
4. Burung, katak, cicak, binatang lain yang memangsa serangga.
5. Penyakit serangga.

Pengendalian buatan
Dilakukan atas usaha manusia. Macam-macamnya, antara lain:
1.  Pengendalian lingkungan (environmental control)
Mengelola lingkungan (environmental management) yaitu mengatur lingkungan sehingga tidak cocok dan membatasi perkembangan vektor.
a.  Modifikasi lingkungan (environmental modification)
Cara ini paling aman terhadap lingkungan karena tidak merusak keseimbangan alam dan tidak mencemari lingkungan tetapi harus dilakukan terus-menerus. Misalnya:
a) Pengaturan sistem irigasi
b) Penimbunan tempat penampung air dan pembuangan sampah
c) Pengeringan air yang menggenang
d) Pengubahan rawa menjadi sawah
e) Pengubahan lautan menjadi pemukiman
b. Manipulasi lingkungan (environmental manipulation)
Membersihkan dan memelihara secara fisik tempat perindukan atau tempat istirahat serangga. Misalnya:
a) Membersihkan tanaman air yang mengapung seperti ganggang dan lumut sehingga menyulitkan perkembangan Anopheles sundaicus.
b) Mengatur kadar garam di laguna sehingga menekan populasi An. subpictus dan An. sundaicus.
c) Melestarikan tanaman bakau yang membatasi tempat perindukan An. sundacius.
d) Membuang atau mencabut tumbuhan air di kolam atau rawa sehingga menekan populasi Mansonia spp.
e) Melancarkan air got agar tidak jadi tempat perindukan Culex spp.

2. Pengendalian kimiawi
Menggunakan bahan kimia yang berkhasiat membunuh serangga (insecticide) dan menghalau serangga (repellent).
Kebaikan:
a.  Dapat dilakukan segera
b. Meliputi daerah yang luas
Keburukan:
a.  Bersifat sementara
b. Menimbulkan pencemaran lingkungan
c.  Menimbulkan timbul resistensi serangga
d. Membunuh juga pemangsa serangga
e.  Penolakan penduduk karena kuatir binatang peliharaannya mati

Contoh:
a) Menuangkan solar atau minyak tanah di permukaan tempat perindukan sehingga larva tidak dapat mengambil oksigen dari udara
b) Pemakaian paris green, tamefos, dan fention untuk membunuh larva nyamuk
c) Penggunaan herbisida yang mematikan tumbuhan air di tempat perindukan
d) Penggunaan insektisida berupa residual spray untuk nyamuk dewasa
e) Penggunaan gel silika dan lesitin cair

3. Pengendalian mekanik
Menggunakan alat yang langsung membunuh, menangkap atau menghalau, menyisir, mengeluarkan serangga dari jaringan tubuh, memakai baju pelindung, memasang kawat kasa di jendela untuk menghindarkan kontak antara manusia dan vektor.

4. Pengendalian fisik
Digunakan alat fisika untuk pemanasan, pembekuan, dan alat listrik untuk menghasilkan angin, penyinaran cahaya untuk dapat membunuh atau mengganggu kehidupan serangga. Suhu 60 derajat celcius dan suhu beku akan membunuh serangga sedangkan suhu dingin menyebabkan serangga tidak dapat melakukan aktivitasnya.
Cara ini dilakukan di hotel, restoran, dan pasar swalayan dengan memasang hembusan angin keras di pintu masuk. Memasang lampu kuning dapat menghalau nyamuk.

5. Pengendalian biologik
Memperbanyak pemangsa dan parasit sebagai musuh alami bagi serangga yang menjadi vektor atau hospes perantara. Beberapa parasit dari golongan nematoda, bakteri, protozoa, jamur, dan virus dapat dipakai sebagai pengendali larva nyamuk. Antropoda juga dapat dipakai sebagai pengendali nyamuk dewasa, misalnya: Arrenurus madarazzi. Predator atau pemangsa yang baik untuk pengendalian larva nyamuk antara lain beberapa jenis ikan, larva nyamuk yang berukuran sedang, dan larva capung, dan Crustaceae.

6.  Pengendalian genetik
Tujuannya adalah mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru yang tidak merugikan.
Caranya:
a.  Mengubah kemampuan reproduksi serangga.
a) Jantan, disebut sterille male technic release
Bahan kimia (TEPA) dan radiasi (Cobalt 60) merusak DNA kromosom sperma tanpa mengganggu proses pematangan. Radiasi juga dapat mengubah letak susunan kromosom (chromosome translocation). Antimiotik, antimetabolit, bazarone (ekstrak tanaman Aeorus calamus).
b) Jantan dan betina di alam disterilkan menggunakan chemosterilants dicampur makanan kesukaan serangga. Telah dicoba pada lalat rumah (Musca domestica) yang diberi TEPA dicampur 67% tepung jagung, 15% gula, 15% susu bubuk, dan 2,5% tepung telur. Keuntungannya tidak perlu memelihara serangga dalam jumlah banyak dalam laboratorium.
b. Perkawinan antar strain menyebabkan sitoplasma telur tidak dapat ditembus oleh sperma sehingga tidak terjadi pembuahan, proses ini disebut cytoplasmic incompatibility.
c.  Perkawinan antar spesies terdekat menghasilkan jantan steril yang disebut hybrid sterility.
d. Memindahkan sifat rentan terhadap insektisida.

7. Pengendalian legislatif
Mencegah tersebarnya serangga berbahaya antar daerah, pulau maupun negara melalui peraturan. Pencegahan dilaksanakan dengan penyemprotan insektisida di bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, dsb serta disediakan karantina.

Tidak ada komentar: